RELATIF.ID, GORONTALO – Suasana Gorontalo beberapa waktu terakhir ini diramaikan dengan kabar yang tak sedap. Mulai dari skandal pejabat, konflik sosial, hingga perilaku menyimpang jadi perbincangan di masyarakat.
Situasi itu kemudian mendapat perhatian mendalam dari berbagai pihak, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Gorontalo.
Ketua NU Kabupaten Gorontalo, Ariyanto Mopangga menilai, solusi dari persoalan sosial seperti itu ialah dengan menghidupkan kembali lembaga adat.
“Sebetulnya sederhana. Kita berpegang teguh pada tatanan yang normal biar tidak ada hal-hal negatif yang terjadi di masyarakat,” tutur Ariyanto saat ditemui pada Sabtu, 20 September 2025 kemarin.
Ia mengingatkan kembali pada falsafah yang menjadi pegangan masyarakat Gorontalo: adat bersendikan sara, sara bersendikan Kitabullah.
Dari falsafah itu, kata Ariyanto, lahirlah nilai yang kerap dirangkum dalam ungkapan bilohe dan tolianga.
Dua kata yang sarat makna, namun kini terasa semakin jarang dijadikan rujukan dalam praktik sosial.
Ariyanto mencontohkan, adat sering kali dihadirkan ketika pernikahan, namun absen saat perceraian.
Padahal, seharusnya adat dilibatkan dalam menyelesaikan setiap simpul persoalan sosial yang terjadi.
“Saya ingin lembaga adat ini difungsikan lagi sebelum lembaga hukum lain yang tangani,” tegasnya.
Ariyanto mengungkapkan, dalam diskusinya bersama Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, ia dipercayakan untuk mengelola rumah adat yang baru agar difungsikan sebagaimana mestinya.
Dari tempat itulah, pihaknya berkomitmen menjadikan lembaga adat sebagai bagian dari agenda NU dalam menghidupkan kembali kearifan lokal.
“Insyaallah ke depan kita akan menyentuh sisi-sisi masyarakat tadi yang perlu kita berdayakan lembaga adat. Kalau Gorontalo kuatnya di situ, sebenarnya itu modal yang perlu kita gali ulang sehingga bisa mengintervensi dan mengilhami pola hidup masyarakat,” jelasnya.
Meski menyadari jalannya tak akan mudah, Ariyanto memilih berangkat dari niat yang tulus.
Untuk meluruskan niat itu, pihaknya pun telah menyiapkan beberapa program mingguan yang rutin dilaksanakan.
* Malam Rabu: latihan meraji
* Malam Jumat: pembacaan sholawat nabi
* Malam Sabtu: mawlid diba
“Memang berat, tapi apa salahnya kita berniat melakukan itu,” ujarnya diakhir wawancara. (Beju)



