RELATIF.ID, GORONTALO (OPINI) – Permasalahan gizi pada balita bukan hanya isu kesehatan semata, melainkan persoalan strategis yang menyangkut masa depan daerah dan bangsa.
Ketika seorang anak mengalami wasting kondisi kurus akibat kekurangan gizi akut yang dipertaruhkan bukan sekadar berat badan saat ini, tetapi juga perkembangan otak, daya tahan tubuh, hingga potensi produktivitasnya kelak.
Kajian mengenai determinan kejadian wasting di Kota Gorontalo menunjukkan bahwa persoalan ini masih menjadi tantangan yang nyata. Angka prevalensi yang diungkapkan dalam penelitian tersebut memperlihatkan bahwa kasus wasting di wilayah ini masih cukup tinggi dan bahkan termasuk yang terbesar di tingkat provinsi. Kondisi ini tentu menjadi sinyal peringatan bahwa intervensi yang ada belum sepenuhnya efektif.
Masalah yang Lebih Kompleks dari Sekadar Kekurangan Makan
Selama ini, wasting sering dipahami secara sederhana sebagai akibat dari kurangnya asupan makanan. Padahal, hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya bersifat multidimensional. Faktor langsung seperti kurangnya asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak memang berperan penting. Namun, faktor tidak langsung seperti rendahnya pendapatan keluarga, tingginya riwayat penyakit infeksi pada anak, serta praktik pemberian ASI eksklusif yang belum optimal juga sangat memengaruhi.
Balita yang sering mengalami infeksi seperti diare atau ISPA cenderung mengalami penurunan nafsu makan dan gangguan penyerapan nutrisi.
Sementara itu, keterbatasan ekonomi keluarga berdampak pada kemampuan menyediakan makanan bergizi dan beragam. Di sisi lain, tidak optimalnya pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi perlindungan alami bayi terhadap penyakit. Semua faktor ini saling berinteraksi dan memperbesar risiko terjadinya wasting. Artinya, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan bantuan pangan semata, tetapi membutuhkan strategi yang menyeluruh.
Dampak Jangka Panjang yang Mengkhawatirkan
Bahaya wasting tidak selalu terlihat secara langsung. Anak yang mengalami kondisi ini berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan imunitas, serta peningkatan kerentanan terhadap penyakit. Dalam jangka panjang, dampaknya dapat menjalar pada kemampuan belajar, perkembangan kognitif, dan produktivitas ketika anak memasuki usia dewasa.
Jika kondisi ini dibiarkan, maka cita-cita untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif akan sulit tercapai. Bonus demografi yang sering digaungkan bisa berubah menjadi beban demografi apabila kualitas sumber daya manusia tidak dipersiapkan sejak dini.
Perlunya Sinergi dan Komitmen Bersama
Temuan penelitian tersebut semestinya menjadi dasar bagi perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Pemerintah daerah perlu memperkuat program pencegahan melalui edukasi gizi, dukungan terhadap praktik ASI eksklusif, peningkatan kualitas layanan kesehatan, serta upaya penguatan ketahanan pangan keluarga.
Namun, tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan pemerintah. Masyarakat, terutama keluarga, memiliki peran sentral dalam memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, serta akses layanan kesehatan yang memadai. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai wasting.
Mengubah Penelitian Menjadi Kebijakan Nyata
Penelitian tentang determinan kejadian wasting di Kota Gorontalo telah memberikan gambaran yang jelas mengenai faktor-faktor penyebabnya. Kini, yang dibutuhkan adalah keberanian dan konsistensi untuk menerjemahkan temuan ilmiah tersebut ke dalam langkah-langkah konkret.
Setiap upaya pencegahan yang berhasil bukan hanya menyelamatkan satu anak, tetapi juga memperkuat fondasi masa depan daerah. Karena sejatinya, kemajuan suatu wilayah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan dari kualitas generasi yang tumbuh dan berkembang di dalamnya. (*)



