kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
BeritaKabupaten GorontaloPendidikan

Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo Sebut Faktor Penyebab Buta Aksara Pernikahan Dini

137
×

Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo Sebut Faktor Penyebab Buta Aksara Pernikahan Dini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pernikahan dini.

RELATIF.ID, GORONTALO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo menyoroti wilayah bagian barat paling rawan buta aksara.

Kecamatan Tolangohula dan Asparaga, disebut menjadi titik yang hingga kini masih menyumbang angka yang cukup besar.

Kepala Bidang Pendidikan Non-Formal, Agustina menjelaskan, bahwa meski jumlah penduduk buta aksara secara umum terus menurun, tantangan di wilayah barat di Kabupaten Gorontalo itu tetap menjadi perhatian utama.

“Yang paling rentan itu di bagian barat, seperti Asparaga dan Tolangohula,” kata Agustina, Rabu (24/9/2025).

Faktor Penyebab

Agustina mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) memang fluktuatif, pada 2021 berada di 1,37 persen. Setahun kemudian sempat naik ke 2,00 persen, lalu menurun menjadi 1,54 persen di 2023, dan kembali turun ke 1,39 persen pada 2024.

Meski cenderung menurun, ia tidak bisa menapik dengan adanya sejumlah faktor yang menyebabkan buta aksara sulit diberantas secara tuntas.

Mulai dari kondisi ekonomi keluarga, jarak sekolah yang jauh dari pemukiman, hingga pernikahan dini, yang membuat anak-anak putus sekolah di usia muda.

“Setiap tahun memang fluktuatif, tapi dia menurun. Harapannya program pendidikan non-formal mampu menekan angka ini lebih jauh,” ujarnya

Upaya Menekan Angka Buta Aksara

Untuk mengatasi persoalan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo mengoptimalkan program Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) keaksaraan dasar dan lanjutan.

Tahun lalu, sedikitnya 291 warga berhasil lulus dari program tersebut. Sementara pada 2025, sudah diusulkan 500 peserta untuk mengikuti program yang sama.

Selain itu, pemerintah juga memperluas jangkauan lembaga pendidikan non-formal.

Saat ini, terdapat 23 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang aktif bekerja sama dengan pemerintah desa untuk mendata warga putus sekolah.

Menarik Untuk Anda :  PC NU Kabupaten Gorontalo Ajak Warga Jadi Tuan Rumah yang Baik di Peransaka Nasional

“Inovasi kami juga terus berjalan. Misalnya, kegiatan Hari Aksara dipadukan dengan pramuka, olahraga, dan aktivitas lain agar masyarakat termotivasi untuk kembali belajar,” tambah Agustina.

Tantangan dan Harapan

Meski demikian, tantangan masih cukup besar, terutama pada kelompok usia lanjut yang enggan kembali belajar meski mereka tetap tercatat dalam data buta aksara.

Selain itu, kendala lain juga ada pada pembiayaan, sebab dukungan pemerintah hanya diberikan bagi peserta hingga usia 25 tahun.

“Untuk itu kami berharap tahun depan program pusat juga bisa diimbangi dengan pendanaan daerah. Dengan begitu ada dua sumber pembiayaan untuk memperluas jangkauan program,” pungkasnya. (Beju)

 

 

Sumber: gorontalo.indozone.id

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312