kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
BeritaKabupaten GorontaloSosial

Jembatan Putus, Warga Desa Polohungo Rela Bertaruh Nyawa Melwan Derasnya Air Sungai

494
×

Jembatan Putus, Warga Desa Polohungo Rela Bertaruh Nyawa Melwan Derasnya Air Sungai

Sebarkan artikel ini
Situasi hari ini, di desa Polohungo.

RELATIF.ID, GORONTALO – Kala hujan turun, bagi sebagian orang adalah berkah. Namun tidak bagi warga Desa Polohungo, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo.

“Hujan berarti banjir. Dan banjir berarti terisolasi,” begitulah ungkapan mereka, saat tim Relatif.id sedang berbincang-bincang dengan warga sempat dikala mendung menyapa.

Jembatan, satu-satunya akses penghubung yang rusak sejak lama, warga harus menantang derasnya arus sungai hanya untuk menjalani hidup, untuk sekolah, untuk pasar, dan untuk sekadar pulang ke rumah.

Anak-anak kecil, dengan buku dibungkus plastik seadanya, sering kali hanya bisa memandang dari kejauhan ketika air naik. Mereka, terpaksa tidak masuk sekolah. Para ibu menatap hasil kebun yang tak bisa dijual ke pasar, dan para bapak mengurungkan langkah untuk bisa mencari nafkah ke luar desa.

Jembatan itu terlihat tak lagi kokoh. Bahkan tak lagi disebut sebagai jembatan. Hanya sekadar rangka besi dan kayu rapuh yang telah lama menanti perhatian, namun tak kunjung tersentuh.

“Kami hanya bisa berharap,” ucap salah seorang warga.

Harapan itu kini bergantung pada satu nama, Rahmat L. Maku. Putra asli desa Polohungo yang kini duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Gorontalo. Ia bukan orang luar yang datang hanya saat kampanye. Ia lahir dan tumbuh di antara derasnya arus sungai itu. Ia tahu bagaimana rasanya.

“Saat saya balik ke kantor, warga menelepon. Air sungai naik. Tak ada jalan pulang bagi mereka,” ujar Rahmat, dengan nada getir, Selasa (15/4/2025).

Ia terdiam sejenak, mengingat masa dirinya pernah merasakan menantang derasnya arus sungai.

Kini saatnya ia tak ingin anak-anak di desanya mewarisi luka dan perjuangan yang sama, hanya karena jembatan tak pernah tersentuh oleh Pemerintah Daerah.

Menarik Untuk Anda :  Sengketa Tanah Di Asparaga Belum Berakhir, DPRD Kabupaten Gorontalo Akan Hadirkan Pihak Terkait

Rahmat datang bukan sekadar untuk mengenang, tapi untuk memperjuangkan. Ia ingin suara desanya tidak hanya berakhir sebagai tumpukan surat permohonan.

“Saya akan coba sampaikan ke bapak Bupati Sofyan Puhi. Jembatan ini bukan soal infrastruktur, ini soal hidup. Soal masa depan warga Polohungo,” tegasnya.

Dan kini, warga menanti jawaban atas perjuangan panjang mereka yang selama ini hanya bersandar pada harapan.

Akankah jembatan itu berdiri kembali? Ataukah desa ini terus terdiam dalam lumpur keterisolasian? Waktu yang akan membuktikan, jika Pemerintah Kabupaten Gorontalo masih memiliki hati yang mendengar jeritan suara rakyat yang ada di Desa Polohungo.

Penulis: Beju

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312