RELATIF.ID, GORONTALO__Hari Buruh atau yang juga dikenal sebagai Hari Pekerja Internasional dirayakan setiap tahun pada tanggal 1 Mei di berbagai negara di seluruh dunia.
Sejarah Hari Buruh berasal dari peristiwa di Chicago, Amerika Serikat pada tahun 1886, ketika buruh-buruh mengadakan unjuk rasa menuntut hak-hak mereka, termasuk hak untuk bekerja selama delapan jam sehari.
Unjuk rasa ini akhirnya berakhir dengan kekerasan dan penangkapan, dan tiga tahun kemudian, pada 1889, Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization) menetapkan 1 Mei sebagai Hari Pekerja Internasional untuk memperingati peristiwa tersebut.
Sejak itu, Hari Buruh menjadi momen penting bagi buruh dan pekerja di seluruh dunia untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Di beberapa negara, Hari Buruh bahkan menjadi hari libur nasional dan dirayakan dengan unjuk rasa, pawai, dan acara lainnya yang menyoroti isu-isu terkait kesejahteraan buruh dan pekerja.
Namun, sejarah Hari Buruh juga mencatat peristiwa-peristiwa lain yang terkait dengan perjuangan buruh dan pekerja. Misalnya, pada tahun 1884 di Amerika Serikat, Serikat Pekerja Organisasi dan Dagang (Knights of Labor) mengadakan kongres pertamanya dan menetapkan 1 Mei sebagai tanggal batas waktu untuk pemerintah dan perusahaan menerapkan standar kerja delapan jam sehari.
Perjuangan buruh untuk hak-hak mereka terus berlanjut hingga saat ini, dan Hari Buruh menjadi momen penting untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya upaya untuk memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan para pekerja.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gorontalo memandang perlunya kemurnian gerakan perjuangan kelas, Man’uth M. Ishak dalam narasinya menyampaikan
“Sejarah seluruh umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas.” ujar Man’uth
Kalimat singkat padat, dan tegas tersebut merupakan kata kunci dalam memahami substansi pemikiran dan proyek politik Marx dan Engels. Saat ini banyak gerakan buruh yang dimanipulasi oleh elit politik untuk meraup simpati dari kelas pekerja
” Perjuangan kelas menurut Man’uth hari ini adalah perjuangan elit birokrasi organisasi serikat buruh yg justru memiliki track record memotong maupun melemahkan gerakan buruh dan menjadi kaki tangan dari berbagai faksi kelas borjuis, katakanlah dengan mendukung partai politik tertentu untuk kepentingan sekelompok orang”, Jelasnya.
Menurutnya, Elit-elit birokrasi busuk yang memiliki sejarah panjang, tindakan serta taktik-taktik yang alih-alih mendukung perjuangan buruh namun justru melemahkannya. Semangat dan panutan mereka adalah kolaborasi kelas dengan berbagai faksi borjuis yang ada.
Seiring menurunnya gerakan buruh, serta serangan balik terhadap perjuangan melawan anti Omnibus Law, menurun pula kemampuan serikat-serikat buruh untuk melancarkan mobilisasi. Faktor lain penurunan mobilisasi massa tersebut juga perspektif elit birokrasi serikat buruh yang melihat mobilisasi massa bukanlah alat perjuangan utama namun alat untuk memperkuat posisi tawar lobi mereka.
“Apa yang bisa diharapkan dengan elit-elit birokrasi serikat buruh yang semangatnya adalah kolaborasi bersama kelas borjuis Indonesia? Kelas borjuis yang tidak memiliki visi masa depan Indonesia, bahkan yang demokratis dan sejahtera sekalipun. Faksi borjuis yang bisa “adu mulut” dalam Pemilihan Umum kemudian bersatu dalam satu kabinet. Kelas borjuis yang visi masa depan Indonesia hanya sebatas baliho yang marak dimana-mana.” ungkap Man’uth.
“Pada momentum hari Buruhini banyak gerakan buruh dan pekerja yang memiliki harapan besar untuk masa depan yang lebih baik bagi mereka dan rekan-rekan mereka. Mereka berjuang untuk memperjuangkan hak-hak dasar mereka, termasuk upah yang adil, jaminan sosial, dan kondisi kerja yang aman dan sehat.” Sambungnya.
Di dalam perjuangan mereka, mereka tidak sendirian. Mereka mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, aktivis sosial, dan masyarakat umum yang memahami pentingnya keadilan sosial.
“Namun, perjuangan ini tidak mudah, dan masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Para pekerja seringkali dihadapkan pada tekanan dari pengusaha yang hanya mengutamakan keuntungan dan kepentingan pribadi mereka.” Paparnya.
Di samping itu, politikus dan elit mungkin memanfaatkan gerakan buruh untuk meraup simpati demi kepentingan pribadi mereka, mengorbankan kesejahteraan buruh dan pekerja.
“Meskipun tantangan ini, gerakan buruh dan pekerja terus berjuang dan mengharapkan masa depan yang lebih baik. Percaya bahwa dengan bersatu dan berjuang bersama kita dapat mengatasi semua tantangan dan mewujudkan visi masa depan yang lebih adil dan merata.” Tuturnya.(Ay/Relatif.id).



