RELATIF.ID, GORONTALO – Tradisi Lebaran Ketupat di Kecamatan Limboto Barat, Gorontalo, menjadi warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Perayaan yang digelar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri ini, memiliki akar sejarah yang kuat, pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat keturunan Jawa-Tondano (Jaton) pada tahun 1909.
Masyarakat Jaton yang merupakan transmigran dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menetap di beberapa desa di Gorontalo, seperti Kaliyoso, Roksonegoro, Mulyonegoro, dan Yosonegoro. Mereka membawa serta tradisi Lebaran Ketupat yang kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Gorontalo.
Salah satu pusat perayaan Lebaran Ketupat di daerah ini adalah berada di wilayah Bundaran Tugu Ketupat, yang setiap tahun menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk merayakan tradisi tersebut.
Selain sebagai ajang silaturahmi, perayaan ini juga berdampak positif pada perekonomian lokal, terutama bagi para pedagang yang menjual bahan kebutuhan khas Lebaran Ketupat, seperti bambu dan daun woka.
Seorang pedagang bambu di Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, Hasan Lalebo (34), mengungkapkan bahwa dirinya sudah mulai berjualan sejak dua hari menjelang lebaran ketupat.
Ia menjual bambu dengan harga Rp10.000 per batang dan daun woka dengan harga Rp3.000 per ikat yang berisi 100 lembar.
“Kami menjual bambu untuk memasak nasi bulu (nasi yang dimasak di dalam bambu), sedangkan daun woka digunakan sebagai pembungkus dodol. Setiap tahun, permintaan selalu meningkat menjelang Lebaran Ketupat,” ujarnya, Kamis (4/4/2024).
Hasan menambahkan, hingga saat ini, ia telah menjual sekitar 900 batang bambu dan 75 ikat daun woka, sementara 25 ikat lainnya masih tersedia.
“Masyarakat yang ingin merayakan Lebaran Ketupat bisa mendapatkan bambu dan daun woka di perempatan Tugu Ketupat, Desa Yosonegoro,” tambahnya.
Tradisi Lebaran Ketupat di Limboto Barat tidak hanya sekadar perayaan saja, tetapi juga sebagai bagian dari gotong royong dan simbol identitas keberagaman budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Beju)



