RELATIF.ID, NUSANTARA – Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan alam. Kekayaan ini tumbuh subur karena kondisi geografisnya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan keberagaman etnis yang menjadikannya negara multikultural.
Kekayaan budaya yang dimiliki merupakan hasil dari interaksi lintas generasi yang menciptakan berbagai tradisi lokal, salah satunya adalah Lebaran Ketupat.
Tradisi Lebaran Ketupat atau Bakdo Kupat merupakan warisan budaya yang hanya dijumpai di Indonesia, yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan, budaya, dan sosial.
Di Provinsi Gorontalo, khususnya di Desa Josonegoro, Kecamatan Limboto Barat, tradisi ini terus dilestarikan oleh komunitas masyarakat Jawa Tondano yang telah menetap di wilayah ini sejak awal tahun 1900-an.
Asal-Usul dan Filosofi Lebaran Ketupat
Secara historis, tradisi Lebaran Ketupat diyakini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dalam rangka dakwah Islam di tanah Jawa.
Istilah “ketupat” atau “kupat” berasal dari akronim Jawa, Ngaku Lepat (mengakui kesalahan), yang dimaknai sebagai ajakan untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahim.
Bentuk ketupat yang berbentuk segi empat dan lima mengandung simbol-simbol spiritual seperti kiblat papat lima pancer dan lima waktu salat sebagai pilar dalam kehidupan Muslim.
Tradisi di Gorontalo
Masyarakat Jawa Tondano di Gorontalo melaksanakan Lebaran Ketupat setiap tanggal 8 Syawal, sepekan setelah Idul Fitri.
Kegiatan ini berlangsung dari pagi hingga siang hari dan menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar, kerabat, dan tetangga.
Hidangan khas seperti ketupat, nasi bulu, dan dodol disiapkan beberapa hari sebelumnya sebagai bentuk syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Dalam konteks lokal, tradisi ini juga merefleksikan hubungan lintas budaya antara pengikut Kiyai Mojo dan masyarakat Minahasa yang terjalin melalui pernikahan dan kehidupan bermasyarakat.
Semangat keterbukaan dan keramahan menjadi ciri khas pelaksanaan Bakdo Kupat, di mana setiap tamu, dikenal atau tidak, disambut dengan hangat.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam
Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga menjadi media edukatif yang menanamkan nilai-nilai Islam, seperti rasa syukur, saling memaafkan, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan semangat toleransi dan kebersamaan.
Ketupat menjadi simbol pembersihan diri dari dosa, sekaligus penghormatan atas perjuangan menahan hawa nafsu selama Ramadhan.
Perspektif Sosial-Politik
Di tengah pelaksanaan Lebaran Ketupat, tidak dapat dipungkiri bahwa nuansa politik juga begitu tampak. Spanduk dan baliho dari berbagai tokoh politik sering kali menghiasi jalan-jalan di sekitar.
Tradisi ini kerap dimanfaatkan sebagai ajang silaturahim politik, karena daya tarik keramaian dan kebersamaan yang menjadi bagian dari budaya lokal.
Penutup
Tradisi Bakdo Kupat menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Jawa Tondano di Gorontalo adalah komunitas yang berhasil merawat warisan leluhur dalam bingkai kebudayaan dan agama.
Dalam dunia yang serba berubah, tradisi ini tetap relevan dan mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Olehnya, Gorontalo patut berbangga karena memiliki komunitas yang selalu menjaga etos perjumpaan, persaudaraan, dan toleransi serta nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi bangsa ini.
Editor: Beju
Sumber: Jurnal Muh. Arif dan Melki Yandi Lasantu (NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI LEBARAN KETUPAT MASYARAKAT SUKU JAWA TONDANO DI GORONTALO), Volume 1 Nomor 2 Juni 2019.



