RELATIF.ID, OPINI – Melihat gelombang demonstrasi yang belakangan terjadi, ini menjadi bukti bahwa rakyat tidak lagi menoleransi sikap elitis para pemimpin yang abai terhadap realitas hidup masyarakat.
Di tengah beban hidup rakyat yang kian menghimpit, dengan harga kebutuhan pokok melambung tinggi, lapangan kerja yang tak memadai, serta ketimpangan kondisi ekonomi. Tiba-tiba rakyat dibuat geger dengan kenaikan tunjangan DPR.
Bagi saya, ini bukan sekadar soal tunjangan atau anggaran berapapun nilainya, melainkan soal etika. Soal sensitivitas sosial. Soal rasa keadilan yang makin terkikis.
Wakil rakyat yang seharusnya menjadi cermin empati dan solidaritas. Malah berubah menjadi simbol kemewahan di tengah penderitaan rakyat.
Lebih ironis lagi, tindakan represif dari aparat kepolisian terhadap para demonstrasi. Sejatinya, peran kepolisian harus hadir sebagai alat pertahanan negara, justru menjelma jadi instrumen represi terhadap rakyat sipil, yang dianggap sebagai penghalang bagi hegemoni kekuasaan.
Alih – alih memberi rasa aman, mereka justru dengan sadar mempertontonkan aksi bengis yang melanggengkan ruang – ruang penindasan. Menggunakan seragam dan kendaraan hasil pajak dari rakyat, digunakan untuk menindas rakyat itu sendiri.
Belum lama kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 80, saya dipertontonkan dengan kondisi bangsa yang begitu miris. Sehingga timbul pernyataan: ketika kondisi bangsa yang hari ini terjadi banyak ketimpangan, dan melihat aparat hukum jadi alat kekuasaan. Lalu dimana letak kemerdekaan itu?
Kita sadar bahwa hari ini kita sedang berada di persimpangan jalan, ketika kalimat penguasa terdengar rapi secara administratif, tetapi pincang secara moral.
Di saat jutaan rakyat hidup dalam ketidakpastian, ketika rakyat mencoba menyuarakan kegelisahan lewat aksi demonstrasi termasuk mahasiswa, buruh, dan elemen masyarakat sipil lainnya, yang mereka terima adalah gas air mata, intimidasi, dan penangkapan.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak pernah menyanjung mereka yang memalingkan wajah dari jeritan rakyat. Tapi ia selalu mencatat dengan jelas, siapa yang berdiri bersama rakyat dan siapa yang menginjak mereka.



