RELATIF.ID, GORONTALO – Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi (PAO) HMI Cabang Gorontalo, Ario Gumohung menyampaikan kritik terhadap tindakan mantan Ketua Umum HMI Cabang Gorontalo yang masih mengatasnamakan dirinya sebagai Ketua Umum aktif dalam surat resmi Cipayung Plus.
Padahal, secara struktural yang bersangkutan sudah tidak lagi menjabat.
“Tindakan tersebut tidak hanya mencederai prinsip formal kelembagaan, tetapi juga merupakan bentuk pelecehan terhadap mekanisme konstitusional organisasi,” tegas Ario, Kamis (16/10/2025).
Ia menegaskan, dalam tradisi HMI, regenerasi kepemimpinan adalah bentuk penghormatan terhadap dinamika organisasi dan kaderisasi.
Ketika seseorang yang tidak lagi memiliki mandat struktural tetap bertindak seolah-olah masih memiliki kewenangan, hal tersebut tidak dapat dibaca sebagai kekhilafan administratif semata, melainkan sebagai bentuk pelanggaran etik dan manipulasi identitas organisasi.
Menurutnya, tindakan mantan ketua itu semakin disayangkan karena surat yang beredar berkaitan dengan permohonan dana atas nama kegiatan bertema “Menolak Intoleransi dan Merawat Kebhinekaan.”
“Sebuah tema yang ideal secara naratif, namun menjadi problematis secara moral ketika diiringi dengan tindakan manipulatif dari internal organisasi itu sendiri,” kata Ario.
Ia menilai, hal tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas dan kejujuran kader HMI dalam mengelola organisasi.
“Bagaimana kita bisa berbicara tentang kejujuran publik dan etika sosial, jika dalam internal organisasi kita justru membiarkan ketidakbenaran berlangsung tanpa koreksi?” ujarnya.
Ario menegaskan, HMI bukan milik satu atau dua orang, melainkan milik kolektif kader yang menjunjung tinggi disiplin, tanggung jawab, dan akhlak perjuangan.
“Maka, jika ada yang masih merasa berhak bertindak atas nama ketua umum padahal tidak lagi memegang mandat, itu bukan lagi bentuk pengabdian tetapi bentuk pembangkangan terhadap sistem yang mereka sendiri dulu jaga,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Ario menyerukan agar seluruh kader HMI kembali menegakkan marwah organisasi.
“Sudah saatnya kita mendisiplinkan diri, menegakkan marwah, dan memastikan bahwa HMI tetap berada di jalur yang benar. Bukan menjadi organisasi seremonial yang dikendalikan oleh ambisi pribadi, tetapi tetap sebagai rumah pembinaan intelektual dan moral yang kredibel bagi umat dan bangsa,” tutupnya. (Beju)



