RELATIF.ID, GORONTALO__Di tengah harapan besar yang mengiringi lahirnya kepemimpinan baru, dinamika yang terjadi di PMII Cabang Kota Gorontalo justru menghadirkan berbagai pertanyaan mendasar mengenai arah dan kualitas kepemimpinan organisasi.
Harapan yang semula digantungkan pada hadirnya energi perubahan kini perlahan berubah menjadi kegelisahan kolektif di kalangan kader.
Kader PMII Gorontalo, Andi Taufik menyampaikan Persoalan yang paling mencolok adalah lemahnya perhatian terhadap aspek legalitas dan penataan organisasi.
Padahal, menurut Andi legalitas bukan sekadar dokumen administratif yang dapat dipandang sebagai formalitas belaka. Ia merupakan fondasi yang menentukan legitimasi, keberlanjutan, serta kekuatan gerak organisasi dalam menjalankan fungsi kaderisasi dan perjuangan intelektualnya.
“Ketika aspek tersebut diabaikan, yang terancam bukan hanya struktur organisasi, tetapi juga marwah kelembagaan itu sendiri”.jelas Andi. Kamis (11/06/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak berhenti pada level kepengurusan cabang. Dampaknya mulai dirasakan hingga ke tingkat komisariat dan rayon sebagai basis utama kaderisasi. Berbagai persoalan yang seharusnya memperoleh perhatian serius justru terkesan berjalan tanpa arah penyelesaian yang jelas.
“Akibatnya, muncul keresahan di kalangan kader yang menilai bahwa sejumlah komitmen yang pernah disampaikan pada momentum pemilihan belum terwujud dalam langkah-langkah konkret.”Katanya.
Dijelaskan juga bahwa dalam organisasi kader seperti PMII, kepemimpinan tidak cukup diukur dari kemampuan menyampaikan gagasan atau membangun retorika. Kepemimpinan sejati ditentukan oleh keberanian mengambil keputusan, ketegasan menyelesaikan persoalan, serta konsistensi menjaga roda organisasi tetap berjalan sesuai aturan dan pedoman yang berlaku.
“Seorang pemimpin dituntut hadir sebagai penyelesai masalah, bukan menjadi bagian dari masalah itu sendiri.”tega Andi.
Lebih jauh Andi menjelaskan, Sejarah organisasi mahasiswa menunjukkan bahwa kemunduran sebuah organisasi sering kali bermula dari lemahnya tata kelola dan minimnya ketegasan dalam memimpin. Ketika persoalan dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi yang jelas, kepercayaan kader perlahan terkikis. Pada titik tertentu, yang dipertaruhkan bukan lagi reputasi individu pemimpin, melainkan masa depan organisasi secara keseluruhan.
“PMII lahir sebagai organisasi kader yang menjunjung tinggi nilai intelektualitas, pergerakan, dan tanggung jawab moral. Karena itu, organisasi ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu bekerja melampaui narasi dan janji. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata, keberanian mengambil sikap, serta kesungguhan menjaga legalitas dan keberlangsungan struktur organisasi.”Jelasnya lagi.
“Pada akhirnya, kader PMII tidak sedang menunggu pidato-pidato baru. Mereka menunggu bukti. Sebab dalam organisasi pergerakan, legitimasi seorang pemimpin tidak dibangun oleh banyaknya janji yang diucapkan, melainkan oleh sejauh mana janji tersebut diwujudkan menjadi kerja nyata yang dapat dirasakan oleh seluruh kader dan elemen organisasi.”tutur Andi.Rdx.



