RELATIF.ID, GORONTALO__Para pelaku politik sering berkata, musuh terbesar dalam pesta demokrasi atau pemilihan legislatif, adalah bukan calon dari partai lain, tetapi rekan se partai itu sendiri, karena jika satu partai berhasil merebut satu kursi, maka para Caleg berebutan siapa yang tentunya menduduki kursi tersebut, sesuai dengan aturan dan mekanisme partai itu sendiri, yang dalam hal ini memiliki suara terbanyak dalam pemilihan nanti.
Hal ini tentunya sudah merupakan rahasia umum karena mading-masing calon harus berebutan untuk bisa mendapatkan simpati dari masyarakat, untuk mendapatkan suara yang banyak sehingga bisa mendapatkan kursi yang di incar dan ditargetkan, untuk menjadi perwakilan rakyat di parlemen nanti, dalam memperjuangkan segala aspirasi dan hak-hak masyarakat itu sendiri.
Seperti yang dikatakan oleh salah satu pengamat politik di Gorontalo Subhan Naser, dimana berbagai cara dan upaya dilakukan oleh para caleg, untuk mendapatkan suara dan kepercayaan masyarakat, meskipun harus mengeluarkan banyak peluru untuk mendapat tujuan yang di inginkan dalam merebut kursi di DPR.
Di tahun politik biasanya dikatakan oleh Subhan Naser, berbagai macam kegiatan dilaksanakan oleh masyarakat yang di sponsori oleh salah satu Caleg baik itu di DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan Kabupaten, yang mau mencapai tujuannya dalam pencarian suara dan simpati masyarakat.
“Ini yang dinamakan pesta rakyat. Karena di setiap perkampungan baik fi kota maupun fi Desa, orang berlomba-lomba untuk melaksanakan baik olahraga maupun seni yang disponsori oleh para Caleg dari partai yang mereka sukai dan mereka dukung untuk menjadi penyambung lidah di DPR nanti,” tandasnya.
Terakhir, dikatakan oleh Subhan Naser, yang menjadi topik pembahasan adalah siapa musuh terbesar dalam pencalegkan, apakah calon dari partai lain, atau rekan yang berada dalam satu partai itu sendiri, masyarakat tentunya sudah memiliki pemahaman sendiri, apalagi calon itu sendiri karena mereka yang tahu dan merasakan sendiri.
“Ini hanya sekedar ulasan kecil yang tentunya masyarakat juga sudah tau. Intinya semuanya kita kembalikan kepada para Calon dan masyarakat itu sendiri, apa yang harus mereka lakukan dalam menghadapi pesta demokrasi. Karena yang akan menerima dampak baik dan buruk adalah mereka para pelaku itu sendiri,” tutupnya.
Pewarta: Dhedy Henga



