RELATIF.ID, GORONTALO – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, dua kecamatan terdampak paling parah yakni Popayato dan Lemito.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, dari dua kecamatan itu ada sebanyak 29 unit rumah di Kecamatan Lemito dan 30 unit rumah di Kecamatan Popayato terendam banjir. Selain itu, lahan pertanian, akses jalan, hingga fasilitas pendidikan juga ikut terdampak sejak 5 April 2025 kemarin.
Namun, persoalan banjir kali ini tidak semata disebabkan oleh curah hujan tinggi. Aktivitas perusahaan di sekitar wilayah rawan banjir disinyalir menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana tersebut.

Zulfikar S. Daday, mantan Ketua Umum Kesatuan Pelajar Mahasiswa Popayato (KPMP), menyebutkan bahwa banjir Yang melanda dua wilayah itu, akibat aktivitas sejumlah perusahaan yang telah membuka lahan secara masif tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan.
“Mereka menggunduli hutan penyangga, merusak struktur tanah, dan tidak melakukan reklamasi. Akibatnya, tanah yang seharusnya menyerap air kini berubah menjadi lahan gersang yang rawan longsor dan banjir,” tegas Zulfikar dalam keterangannya, Minggu (6/4/2025).
Zulfikar menilai, hal ini disebabkan lemahnya pengawasan pemerintah daerah terhadap perusahaan-perusahaan yang semakin memperparah kondisi lingkungan. Bahkan, menurutnya, ada indikasi pembiaran demi kepentingan ekonomi segelintir pihak.
“Pertanyaannya, di mana peran pemerintah? Kenapa tidak ada tindakan tegas terhadap aktivitas perusahaan yang jelas-jelas tidak sesuai perizinan?” tambahnya.
Olehnya, Zulfikar juga mendesak agar pemulihan lingkungan menjadi prioritas. Ia meminta pihak yang terkait agar suara masyarakat yang terdampak tidak diabaikan.
“Banjir bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan cermin dari rusaknya tata kelola lingkungan dan tidak berpihaknya kebijakan pada rakyat kecil,” tutupnya.
Penulis: Beju



