RELATIF.ID, GORONTALO – Hadijah Uno (60), warga Desa Duwanga, Kecamatan Dungaliyo, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) MM Dunda Limboto yang diduga tidak efisien hingga menyebabkan keponakannya, Melinda Uno (25), meninggal dunia.
Kepada awak media, Hadijah menjelaskan kronologi kejadian yang merenggut nyawa keponakannya. Ia menerangkan, Melinda pada Selasa (26/11/2024) dilarikan ke puskesmas karena mengalami demam tinggi dan kemudian dirujuk ke RSUD MM Dunda Limboto.
“Setelah diperiksa, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa kadar hemoglobin (HB) Melinda sangat rendah, hanya sekitar 4, yang jelas di bawah batas normal,” ujar Hadijah melalui sambungan telepon, Sabtu (30/11/2024) malam.
Hadijah mengungkapkan, pada malam itu, pihak rumah sakit meminta keluarga untuk segera mencari pendonor darah karena Melinda membutuhkan delapan hingga sepuluh kantong darah untuk transfusi.
“Kami sudah mendapatkan dua kantong darah pada malam itu dan segera memberitahukan kepada perawat agar darah tersebut bisa digunakan terlebih dahulu sambil menunggu sisanya. Namun, perawat menolak dan bersikeras bahwa harus tersedia delapan kantong darah sekaligus,” jelasnya.
Keesokan harinya, ketika kondisi Melinda sudah sangat kritis, pihak rumah sakit akhirnya menyampaikan bahwa dua kantong darah tersebut dapat digunakan setelah mendapat persetujuan dokter. Namun, saat darah tersebut tiba di rumah sakit, Melinda telah mengembuskan napas terakhirnya.
“Dokter akhirnya mengizinkan dua kantong darah itu digunakan. Tapi sangat disayangkan, darah tersebut baru diperbolehkan saat Melinda sudah tidak tertolong lagi,” ungkap Hadijah.
Hadijah menyebutkan bahwa jika prosedur awal rumah sakit sudah jelas, pihak keluarga tidak akan mempermasalahkan situasi tersebut. Namun, ia menyesalkan perubahan keputusan yang terkesan mendadak dan tidak konsisten.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi di RSUD MM Dunda Limboto. Kami paham mungkin ini adalah ajal keponakan kami. Tapi ketika kondisi kritis, prosedur berubah, dan darah yang sudah kami usahakan dengan susah payah baru boleh digunakan, itu sangat menyakitkan bagi kami,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Relalitif.id masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari pihak RSUD MM Dunda Limboto, terkaitterkait hal tersebut.
Penulis: Beju



