Sering Disoroti, Ini Penjelasan PPK Danau BWS Sulawesi II Terkait Revitalisasi Danau Limboto

87

RELATIF.ID, GORONTALO__Saat ini proses revitalisasi danau Limboto terus dilakukan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo, namun progres pekerjaan beberapa kali menunai kritikan dari beberapa pihak.

Ini dikarenakan kurangnya informasi yang berkaitan dengan proses revitalisasi danau Limboto, namun setiap tahunnya tidak sedikit anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah pusat.

Menanggapi hal ini, PPK Danau Situ dan Embung BWS Sulawesi II, Wempi Waroka menjelaskan, untuk progres pekerjaan revitalisasi sudah mencapai 45 persen termasuk di dalamnya tanggul dan pintu air.

“Untuk tanggul sendiri sudah mencapai 95 persen, yang belum dibangun kanal di hilir dan anggaranya sudah ada,”jelasnya saat di wawancarai di ruang kerjanya, Senin (04/06/2021).

Namun ditanya terkait anggaran setiap tahunnya di gunakan untuk revitalisasi danau Limboto, Wempi mengatakan tidak bisa memprediksi total karena selama ini hanya bisa mengajukan ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian PU-PR.

“Semua tergantung dipa secara keseluruhan, kan di PU-PR ada beberapa direktorat. Dan setiap tahun anggaran selalu ada sejak 2012, Namun kita mengalami penurunan pada tahun 2018 ngak dapat 2019 kecil,” katanya

“Untuk revitalisasi sendiri didalam undang-undang tugas kami yang pertama konservasi kedua pengendalian daya rusak kemudian pendayagunaan air, sistem informasi pada masyarakat. Jadi lima pokok ini yang menjadi tugas kami di PU-PR secara keseluruhan,” Lanjut Wempi

Lebih lanjut ditanyakan terkait luasan revitalisasi danau, Wempi menerangkan jika pihaknya tidak bekerja melihat luasan karena hanya fokus pada pengendalian kawasan yang rusak.

“Pengendalian wilayah yang rusak dimaksud adalah bagaimana ketika terjadi banjir yang diakibatkan oleh beberapa anak sungai yang mengalir ke danau untuk sedimen kita angkut ini salah satunya dan masih banyak lainnya, yang utama seperti pembangunan tanggul sehingga permukaan air danau naik pemukiman tidak terlalu tergenang,” terangnya

Baginya yang terpenting adalah bagaimana bisa mengendalikan air yang ada di kawasan danau Limboto, karena ketika terjadi musim kemarau danau mengalami kekeringan akibatnya air yang surut sehingga hal ini harus dikendalikan.

“Kalau tidak dikendalikan akan terjadi seperti beberapa tahun yang lalu pada 2015 dan tahun 2019, air danau terjadi musim kering saja secara terus menerus tinggal tiga ratus sampai tiga ratus lima puluh hektare yang berair. Dan untuk tahun ini belum ada yang beroperasi karena masih menunggu kontrak yang sementara dilakukan proses,”tutup Wempi Waroka. (Win/Relatif.id)

You might also like
Verification: 436f61bca2cedeab