kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
BeritaNusantaraOpini

80 Tahun Merdeka: Kita Bangga, Tapi Untuk Apa?

208
×

80 Tahun Merdeka: Kita Bangga, Tapi Untuk Apa?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Melki Mane

Melki Mane (Dok. Pribadi)

RELATIF.ID, (OPINI) – Delapan puluh tahun lalu, pekik “Merdeka!” menggema dari jantung ibu kota. Bukan sekadar seruan, tapi sumpah dan tekad untuk lepas dari belenggu penjajahan.

Para pendiri bangsa menulis sejarah dengan darah dan keyakinan, bukan sekadar pena dan pidato. Mereka percaya, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan di situlah titik mula Indonesia yang kita kenal hari ini.

Dinosaur

Namun, delapan dekade berselang, kita harus bertanya: sejauh mana bangsa ini benar-benar merdeka? Apakah kemerdekaan yang diraih dengan pengorbanan itu masih hidup dalam napas rakyat jelata, ataukah hanya menjadi slogan di baliho dan spanduk 17 Agustus

Kemerdekaan yang tergadai hari ini, kita melihat pembangunan yang diklaim pesat—jalan tol membentang, gedung-gedung menjulang, dan teknologi makin canggih. Tapi di balik gemerlap itu, ada rakyat yang masih berjuang hanya untuk makan tiga kali sehari, anak-anak yang harus menempuh puluhan kilometer untuk sekolah, dan petani yang tanahnya dirampas atas nama investasi.

Ironisnya, sejarah perjuangan rakyat kecil kerap hilang dari buku pelajaran. Nama-nama besar tetap diagungkan, sementara pejuang tanpa nama dilupakan. Padahal, merekalah pondasi sesungguhnya dari bangsa ini—yang menanam padi tanpa pamrih, yang mengangkat senjata meski tak dikenal sejarah.

Kritik untuk Kita Semua 

Kemerdekaan bukan hanya urusan negara. Tapi juga soal kesadaran kolektif rakyat.

Hari ini, kita lebih sering memuja simbol daripada makna. Upacara jadi rutinitas kosong, lomba jadi euforia sesaat, bendera dikibarkan—lalu dilupakan.

Kita sibuk berbangga tanpa bertanya: apakah kita benar-benar mewarisi semangat merdeka?

Kita menjadi bangsa yang pelupa. Lupa pada sejarah, lupa pada nilai, dan lupa pada janji kemerdekaan itu sendiri: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menarik Untuk Anda :  'Cita-citaku' Jadi Gagal Ketika Statistik Kekerasan Mengkhianati Perempuan

Saatnya Mengingat, Saatnya Bertanya

Kini, saat usia kemerdekaan menginjak 80 tahun, kita perlu mengingat sejarah yang hilang. Bukan hanya sejarah di atas panggung, tapi sejarah yang tumbuh dari bawah—dari rakyat, dari perjuangan yang tak tercatat.

Kita harus berani mengkritik, tidak hanya memuja. Karena cinta pada bangsa bukan berarti membisu, tapi justru bicara ketika ada yang salah.

Mari rayakan kemerdekaan bukan dengan pesta semata, tapi dengan kesadaran yang tajam dan pertanyaan yang jujur: Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Dan jika belum, siapa yang akan memperjuangkannya—jika bukan kita sendiri?

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312