kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
BeritaNusantaraOpini

Marsinah: Pengakuan Yang Datang Terlambat Atau Tanggung Jawab Yang Terhenti Pada Simbol?

110
×

Marsinah: Pengakuan Yang Datang Terlambat Atau Tanggung Jawab Yang Terhenti Pada Simbol?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sumarti Puspa Sari Mokoginta (Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Gorontalo).

RELATIF.ID, GORONTALO (OPINI) – Tepat 10 November 2025, nama seorang perempuan yang nyaris tenggelam dalam ingatan kolektif kita, resmi dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional”.

Dialah Marsinah, buruh perempuan pabrik arloji PT Catur Putra Surya di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 8 Mei 1993 ditemukan tewas di sebuah gubuk sawah, lima hari setelah lantang dalam perjuangan hak pekerja.

Dinosaur

Lima Hari Menjelang Kematian 

Lima hari sebelumnya, 3 Mei 1993, aksi mogok kerja yang terjadi bukanlah pemberontakan tanpa alasan. Setelah pemerintah resmi menetapkan kenaikan UMR, pabrik justru tuli. Penundaan dan pembahasan yang seakan digantung membuat para buruh pabrik menagih hak legal atas ketentuan negara. Buruh tidak meminta lebih selain upah atas keringat dan waktu mereka dibayar sesuai janji formal di atas kertas waktu itu.

Setelah aksi mogok kerja, 13 buruh rekan kerja Marsinah dipanggil Kodim 0816 Sidoarjo. Mereka dipaksa mengundurkan diri dengan alasan sudah tidak dibutuhkan lagi. Menolak? Tak bisa. Intimidasi dan tindakan represif menjadi badut yang menakut-nakuti.

Mendengar kabar itu, pada 5 Mei, Marsinah melayangkan surat keberatan kepada pabrik, namun sepulang dari sana, Marsinah hilang entah ke mana.

Tak ada yang tahu pasti apa yang telah terjadi saat Marsinah hilang. Namun jenazahnya ditemukan mengenaskan di sebuah gubuk di Nganjuk. Penuh luka, bersimbah darah, mengindikasikan kekerasan dan penyiksaan sebelum meregang nyawa.

Kasus Yang Tak Pernah Tuntas

Tewasnya Marsinah menjadi perhatian publik, pengusutan panjang pun tak bisa jadi jaminan. Ratusan orang diperiksa saat itu, hingga pada 1 November 1993 satuan intelijen menangkap delapan orang yang diduga menjadi dalang pembunuhan Marsinah.

Delapan orang tersebut merupakan orang-orang PT CPS tempat Marsinah bekerja, di mana salah satunya adalah pemilik pabrik itu sendiri. Meski bersikeras tidak terlibat, mereka tetap dijatuhi hukuman pidana namun dinyatakan bebas saat naik banding. Mereka mengaku dijadikan kambing hitam dalam kasus ini. Semua bebas, hingga akhirnya kasus Marsinah tak pernah terungkap tuntas.

Menarik Untuk Anda :  Dari Gorontalo untuk Indonesia Merdeka

Perjuangan Marsinah pun hingga kini menjadi warisan. Ceritanya menjadi simbol perlawanan buruh melawan ketidakadilan, menjadi ikon gerakan perempuan, bahkan kini resmi jadi Pahlawan Nasional. Tapi, apakah Marsinah butuh itu?

Dianugerahi Gelar Pahlawan

Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah, tak lebih dari sekadar pengakuan simbolik tanpa penyertaan kebenaran dan keadilan di dalamnya. 32 tahun berlalu nyawa Marsinah direnggut tanpa penjelasan, apakah gelar Pahlawan Nasional mampu menyembuhkan luka yang menganga sekian lamanya?

Lantas, apa kondisi yang berubah setelah Marsinah jadi Pahlawan Nasional? Sebab hari ini, buruh masih menghadapi realitas yang sama: upah tak layak, sistem kerja yang rapuh, serikat buruh yang kerap dianggap ancaman, serta pekerja perempuan yang suaranya selalu terpinggirkan.

Menjadikan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional tidak pernah benar-benar menyelesaikan apapun. Pelaku penyiksaan tak pernah diadili, kebenaran seakan jadi harapan palsu. Tanggung jawab negara atas keadilan pun perlu dipertanyakan, apakah gelar Pahlawan Nasional sekadar pengakuan yang datang terlambat atau jadi tanda berakhirnya acting negara yang berpura-pura serius selama ini?

Meski terlambat, selamat atas gelar barumu, Marsinah. Di hati terdalam, kisahmu kami rawat dalam ingatan. Keberanianmu jadi nyala semangat dalam perlawanan. Hari ini menjadi bukti yang kesekian kali, bahwa keadilan hanya lelucon dan nyawa manusia biasa tak berarti apa-apa di mata negara.

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312