RELATIF.ID, GORONTALO – Bencana alam yang berulang kali melanda Kabupaten Pohuwato dinilai tidak bisa lagi dipahami sebagai peristiwa alam semata atau disederhanakan sebagai takdir.
Kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan ilegal disebut memberikan dampak nyata terhadap ekosistem dan menjadi pemicu utama terjadinya bencana.
Pandangan itu disampaikan Mahasiswa IAIN Gorontalo, Fahri Aji Firansah, yang secara terbuka mengkritik pemerintah daerah dan aparat penegak hukum (APH) atas bencana yang terjadi belakangan ini.
Menurut Fahri, banjir dan kerusakan lingkungan di Pohuwato tidak terlepas dari hukum sebab akibat atau teori kausalitas.
Ia menilai, aktivitas pertambangan ilegal yang terus berlangsung telah memicu degradasi lingkungan secara masif.
“Bencana yang terjadi hari ini tidak berdiri sendiri. Ada sebab yang jelas, dan itu adalah perusakan lingkungan yang terus dibiarkan,” ujar Fahri, Rabu (31/12/2025).
Ia menyoroti maraknya aktivitas pertambangan ilegal, yang kian hari semakin meresahkan masyarakat.
Pembabatan hutan, kerusakan daerah aliran sungai, serta degradasi lahan disebut berlangsung tanpa kendali dan pengawasan yang memadai.
Dalam konteks ini, Fahri menilai pemerintah daerah dan aparat penegak hukum seolah kehilangan fungsi strategisnya.
Pemerintah dianggap belum menghadirkan solusi konkret serta langkah tegas dalam menangani persoalan tambang ilegal, yang telah merusak lingkungan dan mengancam keselamatan warga.
Sementara itu, aparat penegak hukum dinilai tidak menunjukkan ketegasan dalam menindak para pelaku perusakan hutan.
Lemahnya penegakan hukum, menurut Fahri, justru memberi ruang bagi para mafia tambang untuk terus beroperasi.
“Jika hukum ditegakkan dengan serius, kerusakan ini tidak akan separah sekarang,” tegasnya.
Lebih jauh, Fahri menolak anggapan bahwa bencana yang terjadi harus diterima begitu saja atas nama takdir.
Menurutnya, cara pandang tersebut justru mengaburkan akar persoalan yang sesungguhnya.
“Bencana ini adalah peringatan. Alam sedang menuntut kembali haknya yang telah dirampas oleh para perusak hutan,” tutup Fahri. (Beju)



