kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
Ragam

Yuk Kenali Tradisi Umat Muslim di Gorontalo Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

50
×

Yuk Kenali Tradisi Umat Muslim di Gorontalo Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Tradisi menjelang bulan ramadhan tangkap layar/youtube Wahyono Mopangga.

RELATIF.ID, GORONTALO – Menjelang Ramadhan, masyarakat Gorontalo memiliki tradisi turun-temurun sebagai bentuk kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci tersebut.

Adapun tiga tradisi turun-temurun yang hingga kini masih dijalankan yaitu, Langgilo, Bacoho, dan Tonggeyamo.

Ketiga tradisi itu telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Gorontalo dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Yuk kenali…

1. Langgilo: Mengharumkan Perangkat Salat

Tradisi Langgilo dilakukan dengan membersihkan dan mengharumkan perangkat salat seperti mukena, sarung, dan sajadah.

Perlengkapan ibadah itu direndam dalam air hangat yang dicampur berbagai rempah-rempah, di antaranya jeruk, kelapa parut, daun pandan, daun kunyit, nilam, dan sereh wangi.

Rempah-rempah itu kemudian campurkan dan direbus hingga mengeluarkan aroma khas.

Proses ini dinilai bukan sekadar membersihkan secara fisik, tetapi juga dimaknai sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Tradisi ini mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hari biasa, melainkan momentum spiritual yang perlu disambut dengan persiapan khusus.

2. Bacoho: Tradisi Keramas Penuh Makna

Selain Langgilo, masyarakat Gorontalo juga mengenal tradisi Bacoho. Secara sederhana, Bacoho merupakan tradisi keramas, namun dilakukan dengan ramuan alami yang disebut manggata.

Ramuan tersebut terdiri dari kelapa parut, daun jeruk, pandan, kulit jeruk, sereh, daun kunyit, hingga nilam. Semua bahan ini dicincang dan dibakar menggunakan bara tempurung kelapa, hingga menghasilkan aroma khas yang melekat kuat.

Bacoho dimaknai sebagai pembersihan diri secara menyeluruh. Tidak hanya membersihkan rambut, tetapi juga sebagai simbol kesiapan jiwa dan raga dalam menjalankan ibadah puasa.

3. Tonggeyamo: Musyawarah Menanti Ramadhan

Tradisi yang ketiga adalah Tonggeyamo. Dimana, dalam tradisi ini, pemangku adat (baate), tokoh agama (syaraadaa), serta unsur pemerintah daerah berkumpul di rumah adat.

Menarik Untuk Anda :  Kejari Kabupaten Gorontalo Bagi Sembako Berkah Ramadhan

Pertemuan tersebut diisi dengan ceramah tentang asal-usul Ramadhan serta penantian penetapan awal bulan puasa.

Tradisi ini sudah ada sejak masa kerajaan Gorontalo dan menjadi bentuk sinergi antara adat, agama, dan pemerintah dalam menyambut bulan suci ramadhan.

Suasana Tonggeyamo kerap disandingkan dengan sidang isbat penetapan awal Ramadhan di tingkat nasional, meski tetap kental dengan nuansa adat lokal.

Penetapan Awal Ramadhan 2026

Setalah kita mengetahui tiga tradisi umat muslim di Gorontalo dalam menyambut bulan suci Ramadhan, bagaimana dengan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Untuk penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dijadwalkan menggelar sidang isbat penetapan 1 Ramadhan pada Selasa, 17 Februari 2026, di Jakarta.

Sidang tersebut akan dihadiri oleh perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, ahli falak, Majelis Ulama Indonesia, serta instansi terkait.

Berdasarkan perhitungan hisab, 1 Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026. Namun, keputusan resmi tetap menunggu hasil rukyatul hilal dan sidang isbat pemerintah.

Dengan demikian, beragam tradisi itu menunjukkan bahwa Ramadhan tidak sekadar datang sebagai penanggalan, tetapi disambut melalui ritual budaya yang sarat akan makna. (Beju)

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312