RELATIF.ID, GORONTALO – Direktur RSUD Ainun Habibie Gorontalo, Fitryanto Rajak, buka suara terkait isu dugaan perselingkuhan dengan salah satu stafnya yang beredar luas di media sosial.
Fitryanto menegaskan, informasi yang menyebut dirinya memiliki hubungan khusus dengan staf tersebut tidak benar. Ia menyebut hubungan keduanya hanya sebatas hubungan pekerjaan.
“Saya sama sekali tidak memiliki hubungan khusus dengan yang bersangkutan,” tegas Fitryanto, Kamis (17/9/2026).
Ia menjelaskan, staf yang disebut dalam isu tersebut merupakan bagian dari rekan kerjanya di RSUD Ainun Habibie sekaligus terlibat sebagai mitra dalam usaha yang sedang dirintis bersama dengan sejumlah rekan-rekannya.
“Hubungan saya dengan beliau semata-mata hanya hubungan kerja. Jadi beliau adalah staf di rumah sakit sekaligus mitra kerja kami yang mengurus usaha yang sedang kami rintis,” ujarnya.
“Jadi hanya sebatas hubungan kerja,” lanjutnya.
Fitryanto juga memberikan penjelasan mengenai peristiwa pada malam yang kemudian menjadi bagian dari isu yang beredar di media sosial.
Ia mengungkapkan, pada malam itu, suami dari yang bersangkutan, datang bersama sejumlah aparat dan mengetuk pintu rumahnya sekitar pukul 02.00 WITA.
“Saya kaget, karena saat itu saya sudah tidur karena efek minum obat. Jadi pada malam itu aparat sudah mengetuk pintu,” katanya.
Fitryanto mengaku baru menyadari adanya orang di depan rumahnya setelah ketukan terdengar di balik pintu.
Sebelumnya, kata dia, ketukan dilakukan dari arah pagar sehingga tidak terdengar olehnya.
“Setelah mengetuk di depan pintu baru saya dengar. Setelah mereka di depan pintu, saya langsung buka pintunya,” ujarnya.
Saat pintu dibuka, Fitryanto mengaku mendapat penjelasan bahwa rombongan tersebut datang dari Polres untuk mencari staf yang bersangkutan.
“Saya buka pintu, saya langsung tanya dari mana, Pak. Jawabannya, kami dari Polres, kami mencari Ibu Rini sudah dengan suaminya,” tutur Fitryanto.
Ia kemudian mempersilakan rombongan tersebut masuk dan menunjukkan kamar tempat staf yang dimaksud berada.
“Saya bilang, kalau cari Ibu Rini ada di kamar. Saya langsung mempersilakan masuk semua petugas yang saat itu datang,” katanya.
Kemudian, yang bersangkutan keluar dari kamar setelah dipanggil.
Setelah itu, aparat lalu meminta izin untuk melakukan pemeriksaan di dalam rumah.
“Setelah Ibu Rini keluar, aparat kemudian meminta izin juga untuk memeriksa lokasi. Jadi aparat langsung masuk ke kamar, memeriksa semua kondisi kamar, semua yang ada di dalam mereka cek,” jelasnya.
Pemeriksaan juga dilakukan di kamar tempat Fitryanto tidur. Ia mengatakan aparat sempat menanyakan alasan dirinya cukup lama membuka pintu.
“Mereka tanya ke saya, ‘Pak, sebenarnya kami sudah cukup lama mengetuk-ngetuk di luar, kenapa lama sekali buka?’ Saya bilang, mohon maaf Pak, saya ketiduran,” ujarnya.
Fitryanto menjelaskan, sebelum tidur, dirinya sempat mengikuti rapat melalui Zoom hingga sekitar pukul 23.00 WITA. Setelah itu, ia mengonsumsi obat dan kemudian tertidur.
“Saya Zoom sampai dengan jam 23 lewat, setelah itu saya minum obat. Obatnya masih ada di atas meja. Ini obatnya, Pak. Ini juga komputer dan laptop saya pakai untuk Zoom,” katanya.
Ia menegaskan, kondisi tersebut menjadi alasan dirinya tidak segera mengetahui adanya rombongan yang berada di luar rumah.
Lebih lanjut, Fitryanto juga meluruskan informasi mengenai rumah yang disebut dalam pemberitaan maupun percakapan di media sosial sebagai lokasi kejadian.
Ia menjelaskan, rumah tersebut merupakan miliknya bersama sang istri yang kemudian digunakan sebagai tempat berkumpul atau basecamp bersama dengan sejumlah rekan-rekannya.
“Rumah yang selama ini diberitakan, yang entah rumah milik siapa, entah kontrak dan sebagainya, ini kembali saya pertegas itu adalah rumah saya bersama istri saya yang kemudian kami jadikan basecamp bersama teman-teman,” jelasnya.
Ia mengatakan rumah tersebut memang kerap digunakan untuk berbagai aktivitas bersama rekan-rekannya, termasuk hingga larut malam bahkan menginap.
“Di sana kami banyak melakukan aktivitas, bisa sampai malam, sampai pagi. Bahkan beberapa kali kami sampai pagi menginap di sana. Jadi itu memang basecamp tempat kami berkumpul,” ujarnya.
Fitryanto kembali menegaskan bahwa keberadaan staf tersebut di rumah itu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan dan usaha yang mereka rintis bersama sejumlah rekan-rekannya.
“Karena memang Ibu Rini support system yang ada di rumah sakit, juga merupakan tim support dalam usaha yang kami rintis bersama rekan-rekan,” katanya.
Ia berharap penjelasan tersebut dapat meluruskan informasi yang telah berkembang di tengah masyarakat.
“Jadi itu mungkin perlu diluruskan juga buat masyarakat bahwa tidak ada aktivitas lain yang kami lakukan di sana selain aktivitas bersama rekan-rekan saya,” pungkasnya. (Beju)



