RELATIF.ID, GORONTALO – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencegah stunting sejak dini melalui penguatan peran keluarga, edukasi kesehatan, serta perlindungan terhadap generasi muda.
Hal itu ia sampaikan disampaikan dalam kegiatan peluncuran program Lebegacor (Literasi Bersama Gerakan Cegah Stunting dan Cinta Rupiah) yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan nutrisi bagi keluarga berisiko stunting, di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, permasalahan stunting merupakan tanggung jawab bersama seluruh pihak karena berkaitan erat dengan kualitas kesehatan, kecerdasan anak, serta kondisi gizi ibu hamil.
“Permasalahan stunting ini adalah tanggung jawab bersama. Ini merupakan program nasional yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, serta seluruh pemangku kepentingan,” ujar Idah.
Ia menegaskan bahwa penanganan stunting tidak dapat diselesaikan secara instan, melainkan membutuhkan upaya berkelanjutan dan gerakan nyata dari seluruh elemen masyarakat.
“Stunting tidak bisa diselesaikan dalam sekejap, tidak bisa hanya dengan bantuan sekali saja, dan tidak cukup hanya dengan teori. Dibutuhkan gerak cepat dan kerja nyata dari berbagai pihak,” jelasnya.
Dalam upaya tersebut, Idah menekankan pentingnya peran Tim Penggerak PKK hingga kelompok dasawisma yang berada di tingkat masyarakat. Menurutnya, organisasi tersebut memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pola makan sehat serta pemenuhan gizi yang seimbang.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan bagi remaja, khususnya remaja putri, untuk rutin mengonsumsi vitamin penambah darah guna mencegah anemia yang dapat berdampak pada risiko stunting di masa depan.
Lebih jauh, Idah juga mendorong adanya kerja sama antara dinas kesehatan dan dinas pendidikan untuk melakukan sosialisasi kepada para pelajar terkait pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta pemenuhan gizi sejak usia remaja.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai sumber gizi keluarga, seperti membiasakan mengonsumsi telur dan menu bergizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, jika pola konsumsi sehat dapat diterapkan di setiap rumah tangga melalui program PKK dan edukasi masyarakat, maka risiko stunting dapat ditekan secara signifikan.
Dalam kesempatan tersebut, Idah turut menyoroti pentingnya perlindungan terhadap anak dan remaja dari berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual yang dapat merusak masa depan generasi muda.
Ia menyebutkan bahwa berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di masyarakat menjadi perhatian bersama dan harus ditangani secara serius oleh semua pihak.
“Anak-anak adalah masa depan bangsa. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama menjaga dan melindungi mereka agar dapat tumbuh dengan sehat, bebas dari trauma, serta memiliki kesempatan meraih masa depan yang cerah,” tegasnya.
Olehnya, Idah berharap seluruh elemen masyarakat di Gorontalo dapat bersinergi dalam menjaga kesehatan dan masa depan generasi muda, sehingga mampu melahirkan generasi unggul yang siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045. (Beju)



