RELATIF.ID, GORONTALO (Opini) – Ada yang janggal dalam cara Juru Bicara Wali Kota Gorontalo merespons kritik publik soal rendahnya realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Triwulan I Tahun 2025 yang hanya menyentuh angka 18,16 persen. Bukan menjawab pokok persoalan dengan data dan argumentasi yang jernih, jubir justru melontarkan serangkaian serangan personal yang emosional dan membabi buta. Label seperti “pengamat gadungan” hingga “tong kosong nyaring bunyinya” tak hanya melenceng dari substansi, tapi juga mencederai etika komunikasi pejabat publik dalam iklim demokrasi yang sehat.
Secara akademik, respons jubir ini mencerminkan distorsi cara berpikir atas capaian pendapatan daerah. Realisasi PAD di awal tahun adalah indikator sahih untuk mengukur sejauh mana perencanaan fiskal dan kapasitas kelembagaan daerah dijalankan secara efektif. Kritik terhadap ini bukan upaya pembusukan, melainkan kontrol publik yang dijamin oleh konstitusi dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
Pernyataan bahwa “banyak kota lain lebih rendah” justru menunjukkan pemahaman yang dangkal. Dalam tata kelola keuangan publik, tolok ukur bukan terletak pada posisi relatif terhadap daerah lain, melainkan keberhasilan mencapai target dan efektivitas penggunaan anggaran untuk kepentingan publik. Membandingkan tanpa konteks hanyalah pengalihan isu yang tak menyelesaikan akar masalah.
Dalih bahwa “PAD akan meningkat di kuartal berikut” pun terdengar gamang. Optimisme tak menggugurkan kewajiban menunjukkan kinerja sejak awal. Apalagi, APBD idealnya disusun dengan proyeksi berbasis data yang realistis dan bukan sekadar harapan.
Adapun alasan bahwa APBD disusun oleh pemerintahan sebelumnya tak bisa dijadikan tameng. Prinsip continuity of governance mengharuskan pemerintah baru tetap bertanggung jawab terhadap anggaran berjalan, termasuk melakukan penyesuaian tanpa menjadikan masa lalu sebagai kambing hitam.
Juru bicara seharusnya menjadi wajah jernih dari sebuah pemerintahan yang reformis. Bukan malah terjebak dalam sesat pikir defleksi dan whataboutism. Ketika kritik datang, jawab dengan terang, bukan menyerang. Sebab, kritik adalah bahan bakar demokrasi, bukan ancaman.



