RELATIF.ID, GORONTALO – Riak-riak demokrasi pasca pemilu di sejumlah daerah dalam beberapa pekan terakhir ini, menyisakan keresahan di tengah masyarakat.
Bukan hanya menyangkut siapa yang duduk di parlemen, melainkan juga kualitas para wakil rakyat yang lahir dari pesta demokrasi.
Menyikapi hal itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gorontalo menghadirkan jawabannya melalui pendidikan pemilih, yang kali ini diwujudkan lewat stadium general bertajuk “Mengakar Kembali Calon Legislatif dan Calon Kepala Daerah” di Universitas Gorontalo, Senin (15/9/2025).
“Literasi kepemiluan harus diperkuat sejak dini,” ujar Komisioner KPU Kabupaten Gorontalo, Agustina Bilondatu saat ditemui usai kegiatan
Menurutnya, mahasiswa terutama generasi Z tidak sekadar menjadi penonton pesta demokrasi, melainkan garda terdepan dalam menentukan arah bangsa, yang kelak akan mereka warisi dan kembangkan.
“Harapan besar kami, mahasiswa bisa tampil sebagai pemilih cerdas pada pemilu mendatang,” ucapnya.

Agustina mengatakan, langkah KPU menyasar kalangan kampus memang baru dimulai. Sebelumnya, sosialisasi serupa telah dilakukan di lima sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Gorontalo, yang menjadi fondasi awal terbentuknya pemilih cerdas sejak dini.
“Skala SMA sudah lima, universitas baru satu. Berikutnya kami akan masuk ke kampus lain,” paparnya.
KPU juga menekankan pentingnya prinsip inklusivitas dalam pendidikan pemilih, yang bertujuan agar literasi kepemiluan tidak berhenti di ruang diskusi sempit.
“Kami berusaha merangkul sebanyak mungkin pihak. Karena itu, KPU menjalin kerja sama dengan berbagai instansi terkait,” imbuhnya.
Sebagai upaya transparansi publik, Agustina turut mencontohkan kanal Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH), yang dapat dimanfaatkan mahasiswa agar tidak mudah diombang-ambing oleh informasi menyesatkan.
Senada dengan itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gorontalo, Abdul Wahab Podungge, menegaskan pentingnya literasi sebagai landasan berpikir kritis sebagai bekal utama mahasiswa sebelum terjun dalam kehidupan bermasyarakat.
“Literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga memahami setiap bentuk informasi. Sebelum melakukan aksi, kita harus tahu terlebih dahulu,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan tersebut membawa manfaat bagi mahasiswa, yang saat ini sedang berada pada fase pencarian identitas dan arah pemikiran.
“Insyaallah kegiatan ini memberi berkah bagi kita sekalian. Atas nama civitas akademika, saya menyampaikan terima kasih kepada jajaran KPU Kabupaten Gorontalo yang telah menghadirkan kegiatan ini di Universitas Gorontalo,” tutupnya. (Beju)



