RELATIF.ID, GORONTALO – Belum terungkapnya pelaku dalam kasus kematian Elsanti Ibrahim alias Eca (21), perempuan asal Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, mendapat perhatian serius dari Ketua DPC PERADI SAI Gorontalo, Ronald van Mansur Nur.
Ronald mendesak Kapolda Gorontalo memberikan atensi dan pengawasan langsung terhadap penanganan perkara tersebut. Ia meminta kepolisian bekerja maksimal agar kasus yang menyita perhatian masyarakat itu tidak terus menyisakan tanda tanya bagi keluarga korban.
Menurut Ronald, kasus Eca bukan sekadar peristiwa kriminal yang bisa berlalu tanpa kepastian hukum. Penanganannya menjadi ujian bagi profesionalitas aparat penegak hukum sekaligus kepercayaan publik terhadap kepolisian.
“Jangan biarkan misteri kematian Eca terus menyisakan tanda tanya. Pastikan setiap petunjuk, barang bukti, dan keterangan saksi diperiksa secara profesional dan transparan,” tegas Ronald, Sabtu (7/11/2026).
Kasus ini bermula ketika Eca dilaporkan hilang oleh keluarganya pada Juni 2026. Polda Gorontalo bersama Polres Boalemo kemudian melakukan pencarian, termasuk menyebarkan informasi orang hilang ke sejumlah wilayah kepolisian.
Pencarian sempat terkendala luasnya area perkebunan tebu dan lebatnya tanaman di sekitar wilayah pabrik gula. Polisi bahkan mengerahkan drone dan anjing pelacak untuk membantu penyisiran.
Titik terang muncul setelah seorang petani menemukan kerangka manusia di perkebunan tebu Desa Bongo Tua, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, pada Jumat (25/9/2026). Sehari sebelumnya, kepolisian telah menerima informasi awal mengenai temuan tersebut.
Dalam penyisiran di sekitar lokasi, petugas menemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan Eca. Di antaranya telepon genggam Oppo A18 berwarna biru di saluran irigasi, gelang berwarna keemasan, serta potongan pakaian bermotif polkadot.
Barang-barang tersebut ditemukan di 14 titik berbeda dalam radius sekitar 50 meter dari lokasi penemuan kerangka. Ponsel dan gelang kemudian dikonfirmasi kepada pihak keluarga sebagai barang yang berkaitan dengan Eca.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Gorontalo, Kombes Pol Teddy Rachesna, sebelumnya menyatakan pihaknya telah menerbitkan laporan polisi terkait dugaan pembunuhan. Penyidik juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti untuk mengungkap perkara tersebut.
Sementara itu, Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Gorontalo melakukan pemeriksaan forensik terhadap kerangka yang ditemukan. Sampel DNA kerangka direncanakan dibandingkan dengan sampel DNA orang tua Eca untuk memastikan identitas secara ilmiah.
Perkembangan berikutnya, pada 26 Oktober 2026, Kabid Humas Polda Gorontalo Kombes Pol Marupa Sagala menyebut penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan DNA. Saat itu, Polda menargetkan hasil pemeriksaan dapat diumumkan paling lambat pada pekan tersebut.
Namun, hingga saat ini, belum ada perkembangan informasi dari pihak kepolisian, yang memastikan hasil pemeriksaan DNA maupun pengungkapan tersangka dalam perkara ini.
Olehnya, Ronald meminta pihak Polda Gorontalo lebih serius dalam menjalankan proses penyelidikan dan penyidikan. Sebab menurutnya, setiap kemungkinan harus ditelusuri berdasarkan fakta dan alat bukti yang tersedia.
Ia juga menegaskan, apabila ditemukan unsur pembunuhan, aparat harus mengungkap pelaku serta siapa pun yang terbukti terlibat dalam perkara tersebut.
Baginya, keluarga korban berhak mendapatkan kepastian hukum. Jangan sampai mereka terus menunggu tanpa kejelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kematian Eca.
“Keadilan untuk Eca bukan sekadar tagar. Ini adalah tuntutan moral kepada negara,” ujarnya.
Ronald mengingatkan, belum terungkapnya kasus kekerasan dan kematian dapat memengaruhi rasa aman masyarakat. Ia berharap Gorontalo tetap menjadi daerah yang aman, tempat masyarakat tidak dihantui ketakutan akibat tindak kejahatan yang tidak memperoleh penyelesaian hukum.
Ia menyatakan percaya Polri mampu mengungkap kebenaran di balik kasus Eca. Namun, kepercayaan masyarakat harus dijawab melalui kerja nyata, bukan hanya pernyataan atau janji.
“Pak Kapolda, masyarakat menunggu langkah nyata,” tandasnya. (Beju)


