RELATIF.ID, GORONTALO – Hingga kini Pemerintah belum menetapkan banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat sebagai bencana alam nasional.
Bencana yang terjadi sejak dua pekan terakhir ini dipicu hujan deras berintensitas tinggi pada 21–23 November 2025, yang mengguyur di tiga wilayah tersebut.
Meski banjir di sejumlah titik mulai surut, namun menyisakan kerusakan yang sangat besar. Fasilitas umum rusak parah, sejumlah desa terisolasi, hingga ratusan korban jiwa dinyatakan meninggal dan hilang.
Pada Senin, 1 Desember 2025, Presiden Prabowo Subianto bersama Mensesneg Prasetyo Hadi dan Seskab Teddy Indra Wijaya sempat meninjau langsung lokasi terdampak banjir dan longsor.
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan langkah-langkah darurat telah berjalan sesuai standar penanganan bencana yang cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Selain peninjauan, pemerintah juga menyiapkan langkah pemulihan infrastruktur dasar, meliputi akses jalan, jembatan, energi, telekomunikasi, serta layanan kesehatan.
Presiden juga meminta seluruh jajaran terkait bekerja cepat untuk meminimalkan dampak bencana terhadap masyarakat.
Kerusakan Dan Dampak Infrastruktur
Data BNPB per 1 Desember 2025 mencatat skala kerusakan yang ditinggalkan bencana ini sangat besar.
Sebanyak 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rumah rusak sedang, dan 20.500 rumah rusak ringan di tiga provinsi terdampak.
Di sektor konektivitas, 271 jembatan rusak atau putus total, menyebabkan banyak wilayah terisolasi dan menyulitkan proses evakuasi serta distribusi logistik.
Akses jalan nasional di sejumlah titik di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat juga rusak hingga tak dapat dilalui akibat tergerus arus ataupun tertimbun material longsor setinggi 2–5 meter.
Kerusakan juga terjadi pada layanan publik. BNPB melaporkan 282 fasilitas pendidikan terdampak, termasuk sekolah yang terendam lumpur dan kehilangan peralatan belajar.
Banyak fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi karena pasokan listrik dan air bersih terputus, sementara jaringan telekomunikasi di beberapa titik lumpuh total.
Di sektor pertanian, ribuan hektare sawah hancur tersapu banjir bandang. Lumpur tebal menimbun lahan-lahan produktif, menyebabkan petani kehilangan sumber penghidupannya dan memunculkan potensi gagal panen di bulan mendatang.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyatakan penyaluran logistik melalui jalur darat sulit dijangkau karena infrastruktur rusak parah. Sehingga distribusi logistik dilakukan melalui jalur udara.
“Untuk masyarakat yang benar-benar terisolir, bantuan kita drop melalui jalur darat, sehingga distribusi difokuskan lewat udara,” kata Bobby pada Minggu (30/11/2025).
Alasan Pemerintah Belum Menetapkan Status Bencana Nasional
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menjelaskan pertimbangan pemerintah terkait desakan masyarakat agar Presiden Prabowo Subianto menetapkan status darurat bencana nasional.
Menurutnya, pemerintah pusat masih yakin bahwa pemerintah daerah dapat menangani situasi tersebut secara bersama-sama.
“Ya, pemerintah bisa mengendalikan situasi dan keadaan secepatnya, dan sekarang sedang dilakukan bersama dengan pemerintah daerah kabupaten, kota, dan provinsi di lingkungannya masing-masing,” ujarnya usai bertemu Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Pemda Mulai Menyerah Hadapi Skala Kerusakan
Di sisi lain, tiga kepala daerah di provinsi terdampak menyatakan menyerah dalam menangani bencana karena skala kerusakan yang terlampau besar.
Muzani juga mengakui bahwa kondisi itu merupakan situasi memprihatinkan.
“Ya, itu jadi keprihatinan juga karena situasinya harus dihadapi secara bersama-sama,” katanya.
Terkait apakah status bencana perlu dinaikkan menjadi bencana nasional, Muzani menilai hal itu sepenuhnya kewenangan Presiden.
“Ya, Presiden punya pertimbangan-pertimbangan tertentu. Saya kira, itu kan kewenangan Presiden karena keputusannya nanti harus ditetapkan dalam bentuk Keppres,” tandasnya.
Korban Jiwa, Hilang, dan Terdampak
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di Sumatra mencapai 604 jiwa.
Jumlah itu berdasarkan data di situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) pada Selasa (2/12/2025), pukul 09.00 WIB.
Sumatra Utara menjadi wilayah paling tinggi, korban meninggal dunia sebanyak 283 jiwa. Diikuti Sumatra Barat 165 jiwa dan Aceh 156 jiwa korban meninggal dunia.
“Jumlah meninggal 604 jiwa,” tulis situs Pusdatin BNPB, Selasa (2/12/2025).
Adapun korban yang masih dinyatakan hilang mencapai 464 orang, dengan rincian Aceh 181 jiwa; Sumut 169 jiwa; dan Sumbar 114 jiwa.
Secara keseluruhan, bencana ini berdampak pada 1,5 juta jiwa, dengan 570.000 orang mengungsi ke berbagai titik pengungsian yang tersebar di tiga provinsi.
“Jumlah terdampak 1,5 juta jiwa dan 570.000 orang mengungsi,” dikutip dari situs BNPB. (Beju)
Sumber: Dari Berbagai Sumber



