RELATIF.ID – Leopold Weiss lahir pada tahun 1900 di Lviv, Ukraina, adalah seorang intelektual yang perjalanan hidupnya melintasi dunia Barat dan Islam. Sebelum memeluk agama Islam pada tahun 1926, Leopold adalah seorang jurnalis dan intelektual terpelajar dengan ketertarikan mendalam terhadap dunia Timur, khususnya Islam. Salah satu aspek yang paling menarik perhatiannya dalam Islam adalah peristiwa Isra Mi’raj, yang kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan spiritualnya.
Isra Mi’raj, merupakan peristiwa perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yerusalem (Isra) dan kemudian naik ke langit untuk bertemu Allah SWT (Mi’raj), menjadi simbol perjalanan batin yang lebih dalam bagi Leopold.
Menurutnya, peristiwa ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan sebuah simbol pencapaian spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia Ilahi. Dalam bukunya Perjalanan Menuju Mekkah (1954), yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1955, Leopold menuliskan, “Isra Mi’raj bukan hanya sebuah peristiwa, tetapi simbol dari perjalanan yang harus ditempuh jiwa manusia dalam pencariannya untuk bersatu dengan Yang Maha Kuasa.”
Leopold memandang Isra Mi’raj sebagai sebuah metafora perjalanan spiritual yang membawa jiwa manusia menuju pencerahan sejati, melampaui batas ruang dan waktu. Dalam tulisannya itu, Leopold menggambarkan bahwa pengalaman ini memberikan pandangan tentang keabadian dan kedekatan manusia dengan Tuhan. Ia menyatakan, “Dalam kenaikan menuju Ilahi, manusia melampaui batasan-batasan eksistensi duniawinya, memasuki suatu alam di mana rohnya bebas untuk berkomunikasi dengan Yang Tak Terhingga.”
Melalui pandangannya, Leopold menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj lebih dari sekadar perjalanan fisik atau sejarah; ia adalah perjalanan spiritual manusia untuk memahami tujuan hidup dan menggapai pencerahan. Dalam pemikirannya itu, perjalanan ini adalah simbol pencapaian batin yang memungkinkan seseorang untuk merasakan kedekatan yang lebih intim dengan Tuhan.
Setelah Leopold Weiss memeluk Islam dan mengubah namanya menjadi Muhammad Asad, ia pun mulai aktif menulis untuk menjelaskan tentang ajaran Islam kepada dunia Barat. Asad ingin mengungkapkan dimensi mistik dan spiritual Islam yang sering disalahpahami. Sebagai seorang intelektual, ia berusaha menunjukkan bahwa Islam bukan hanya sebuah sistem hukum atau ritual, tetapi juga sebuah jalan hidup yang mengarah pada kedamaian spiritual.
Buku Perjalanan Menuju Mekkah adalah salah satu karya besar Asad yang mengisahkan perjalanan hidupnya dan pencarian spiritualnya melalui Islam. Dalam buku itu, Asad mengungkapkan bagaimana ia menemukan Islam sebagai jawaban atas pencarian hidupnya. Ia menggambarkan pengalaman spiritual yang ia alami melalui peristiwa Isra Mi’raj, yang dianggapnya sebagai panduan bagi setiap individu dalam pencarian batin yang mendalam. Asad menulis, “Perjalanan malam adalah metafora untuk perjalanan yang lebih dalam terhadap diri sendiri, perjalanan yang harus ditempuh oleh setiap jiwa dalam pencarian Kebenaran.”
Sebagai seorang intelektual, Asad tidak hanya menceritakan perjalanan hidupnya, tetapi juga berusaha menanggapi banyak salah kaprah mengenai Islam di dunia Barat. Dengan pengetahuan yang luas tentang dunia Barat dan Timur, Asad mampu menawarkan perspektif yang lebih seimbang dan mendalam tentang Islam. Ia menegaskan bahwa “Islam bukan hanya agama; itu adalah cara hidup yang menawarkan jawaban lengkap atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang eksistensi.”
Karya-karya Muhammad Asad, khususnya yang berkaitan dengan pemahaman spiritual dan mistik Islam, telah memberikan kontribusi besar bagi dunia Islam dan Barat. Melalui pemikirannya itu, Asad tidak hanya mengungkapkan kedalaman ajaran Islam, tetapi juga membuka jalan bagi pemahaman yang lebih holistik tentang agama ini. Isra Mi’raj, bagi Asad, adalah perjalanan batin yang harus ditempuh oleh setiap jiwa dalam pencariannya untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. (Beju)



