RELATIF.ID, POHUWATO _ Buntut pernyataan Direktur PT.PETS. dan PT.GSM, Boyke Poerbaya Abidin, membuat tokoh masyarakat Kecamatan Buntulia, Risman Ibrahim, angkat bicara.
Kepada Relatif.id, Risman mengatakan, dirinya sangat menyayangkan terkait penyampaian Dirut Boyke Poerbaya Abidin. Sebab Menurut Risman, pernyataan tersebut ibarat menyiram luka dengan air lemon.
“Masyarakat Pohuwato masih dalam keadaan berduka dengan aksi kemarin. Seharusnya pihak perusahaan “cooling down”. Pernyataan seperti ini akan memicu riak dari masyarakat yang kita tahu bersama mereka siap melakukan apapun asalkan hak mereka terpenuhi,” cetus Risman, Minggu, (24/9/2023).
Risman melanjutkan, salah satu pernyataan Boyke yang mengatakan para pemilik lokasi atau penambang siap berganti profesi yang notabene merusak lingkungan itu, menurut Risman pernyataan tersebut tidaklah pantas dilayangkan oleh perusahaan yang bergerak di wilayah pertambangan.
“Ini bukan ganti rugi atau tali asih seakan-akan perusahaan berbesar hati kepada masyarakat. Seharusnya ini harus ganti untung. Masyarakat harus diuntungkan dari lokasi yang dimilikinya dan perusahaan harus tahu diri. Harganya harus sesuai, Karena masyarakat siap pindah profesi apabila harga lahan yang diberikan perusahaan sesuai,” tegas Risman.
Sebagai penutup, Risman Ibrahim yang juga sebagai sekretaris PCNU Pohuwato menegaskan, kalau masyarakat sudah menuntut haknya dengan cara yang dianggap keras, maka sejatinya ada hak milik masyarakat yang belum ditunaikan. Dan apabila rakyat dianggap anarkis, lantas perampasan hak tanah rakyat oleh perusahaan kira-kira sebutannya seperti apa?.
“Peristiwa ini akan kami konsolidasikan secara kelembagaan melalui PWNU dan PBNU agar bisa diteruskan kepada Kementrian ESDM dan Presiden Republik Indonesia,” pungkas Risman.
Sebelumnya, berdasarkan pemberitaan media Kompas.tv, Direktur Utama PT.PETS dan PT.GSM, Boyke Poerbaya Abidin mengatakan, bahwa pihaknya (Perusahaan) tidak pernah memberikan ganti rugi lahan, namun perusahaan hanya memberikan tali asih.
“Kami tidak memberikan ganti rugi lahan tapi kita memberikan tali asih, karena kami sadar saudara-saudara kita para penambang diatas itu yang siap untuk berganti profesi jadi meninggalkan pekerjaan mereka menambang yang notabene juga membahayakan lingkungan apalagi membahayakan diri sendiri menjadi kegiatan yang lebih produktif tapi aman,” kata Boyke di Video media (Kompas.Tv).
Bahkan, Boyke menyebut demontrasi berujung anarkis yang dilakukan oleh penambang itu, bukanlah para penerima tali asih.
“Kemarin itu pada waktu kita mengundang mereka di kantor, itu waktunya memang bersamaan dengan waktunya berkumpul. Jadi kelompok diatas yang berbuat anarkis itu bukan mereka yang datang ke undangan kami. Yang datang ke undangan kami adalah orang yang terdata dan siap untuk mendengar penjelasan tali asih program ini terkait besarannya, kemudian koordinatnya, sedangkan orang yang naik keatas ini sama sekali berbeda dengan yang dibawah sana,” ucap Boyke.
GK (Relatif.id)



