RELATIF.ID, BONE BOLANGO – Persediaan darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Bone Bolango, kerap kali tidak mencukupi kebutuhan rumah sakit.
Sehingga, kondisi ini membuat keluarga pasien terkadang harus mencari donor hingga ke UTD Kota Gorontalo ketika membutuhkan golongan darah tertentu.
Ketua PMI Bone Bolango Ruwaida Ismet Mile mengatakan, persoalan ini perlu dijawab dengan membangun kebiasaan donor darah secara rutin di kalangan masyarakat.
Menurut Ruwaida, kondisi tersebut menjadi ironis karena sebagian pendonor di UTD Kota Gorontalo justru berasal dari Bone Bolango. Sementara pada saat yang sama, stok darah di UTD Bone Bolango masih dapat mengalami kekosongan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat, khususnya kalangan pegawai, menjadikan donor darah sebagai kegiatan rutin.
Ruwaida mengatakan, jika dari ribuan pegawai di Bone Bolango terdapat sedikitnya 100 orang yang rutin mendonorkan darah, jumlah tersebut sudah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang sewaktu-waktu membutuhkan transfusi.
“Bagaimana kalau kita sendiri tidak minta-minta lagi di kota. Kita sendiri dari sini, dari Bone Bolango, yang membantu masyarakat yang membutuhkan darah,” ujarnya, Senin (21/9/2026).
Menurut Ruwaida, kebutuhan darah tidak mengenal waktu. Kondisi tersebut dapat terjadi kapan saja, termasuk ketika seorang ibu menjalani proses persalinan dan membutuhkan transfusi darah.
Karena itu, generasi muda juga didorong untuk tidak ragu menjadi pendonor. Donor darah, kata Ruwaida, merupakan bentuk kepedulian yang dapat membantu menyelamatkan kehidupan orang lain.
“Donor darah itu penting. Donor darah tidak akan membahayakan kita, tetapi akan lebih menyehatkan kita,” katanya.
Di sisi lain, Sekretaris Daerah Bone Bolango Iwan Mustapa menegaskan kerja kemanusiaan PMI tidak berhenti pada urusan donor darah.
Menurut Iwan, keberadaan PMI juga dibutuhkan ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat, seperti kekeringan maupun kebakaran.
Saat sumber air mengering, PMI ikut bergerak mendistribusikan air bersih kepada masyarakat. Begitu pula ketika terjadi kebakaran dan ketersediaan armada pemadam terbatas, PMI dapat mengambil peran membantu kebutuhan air di lokasi kejadian.
“PMI bukan hanya urusan darah. Ketika ada kekeringan, PMI juga hadir. Ketika ada kebakaran, PMI juga membantu,” tegas Iwan.
Ia menilai kerja kemanusiaan seperti itu menunjukkan pentingnya keberadaan PMI di tengah masyarakat, terutama ketika warga menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat.
Upaya memperkuat ketersediaan darah juga terus didorong melalui kegiatan TP PKK Bone Bolango.
Rangkaian kegiatan PKK diupayakan turut diisi dengan donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis hingga pemeriksaan golongan darah.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas partisipasi masyarakat sekaligus membangun kesadaran bahwa kebutuhan darah merupakan persoalan yang dapat terjadi kapan saja.
Dengan semakin banyak masyarakat yang menjadi pendonor rutin, PMI Bone Bolango berharap kebutuhan darah bagi pasien di rumah sakit dapat lebih mudah dipenuhi tanpa harus selalu bergantung pada pasokan dari daerah lain. (Beju)



