RELATIF.ID, GORONTALO – Pengunduran diri Rektor Universitas Gorontalo, Sofyan Abdullah, pada 3 September 2025 kemarin, sontak membuat civitas akademika terkejut.
Pasalnya, surat pengunduran diri yang disampaikan ke Senat Universitas tidak mencantumkan alasan yang jelas.
Kendati demikian, selama tiga tahun lebih Sofyan menjabat sebagai rektor, koordinasi dengan pihak senat maupun Yayasan Pendidikan DLP Gorontalo selalu berjalan dengan baik.
Tanpa ada persoalan yang mendesak, keputusan muncul tiba-tiba ketika adanya surat pengunduran diri tersebut.
Berdasarkan keterangan Sekretaris Senat Universitas Gorontalo, Dr. Ramdan Kasim, bahwa selama ini hubungan kerja antar lembaga berlangsung normal.
Bahkan, kata dia, tidak pernah ada masalah yang dianggap urgen selain surat pengunduran diri.
“Selama ini kami melakukan rapat, melakukan koordinasi, selama ini juga kami melihat antara hubungan kerja antara senat, hubungan kerja dengan Yayasan, yang bersangkutan (rektor) ini normal,” kata Ramdan pada Kamis (4/9/2025).
“Tidak ada kondisi-kondisi yang kami anggap paling urgen ketika beliau mengundurkan diri,” sambungnya.
Meski begitu, Ramdan mengakui bahwa Sofyan pernah menyampaikan keinginannya untuk lebih dekat dengan keluarga. Sehingga, kemungkinan besar urusan keluarga itu yang menjadi salah satu alasan pengunduran dirinya.
“Tetapi yang ingin kami sampaikan adalah, bahwa pak rektor yang telah mengundurkan diri ini, pernah menyampaikan kepada kami bahwa beliau ini ingin dekat dengan keluarga,” imbuhnya.
Sementara itu, Dr. Sofyan Abdullah menyampaikan alasan dibalik pengunduran dirinya dari jabatan Rektor Universitas Gorontalo.
Ia mengatakan, bahwa dirinya sudah tidak sejalan dengan Ketua Yayasan Duluwo Limo Lo Pahala Gorontalo, Mohammad Rolly Paramata.
“Saya sebagai rektor sudah tidak sejalan dengan Ketua Yayasan DLP Gorontalo,” ungkap Sofyan dikutip dari beritaa1.id, Jumat (5/9/2025).
Sejak awal massa kepemimpinan Sofyan, pihaknya telah menargetkan 10.000 mahasiswa yang masuk ke Universitas Gorontalo.
Namun, visi dan misinya itu kandas lantaran tidak mendapat dukungan dari Ketua Yayasan Pendidikan DLP Gorontalo.
“Sebenarnya banyak tapi alasan mendasar saya mengundurkan diri adalah tidak se-visi lagi dengan Ketua Yayasan,” ungkap Sofyan.
Sebagaimana diketahui, Sofyan tidak hanya mundur dari jabatan Rektor, tapi juga sebagai dosen.
Ia mengawali kariernya sebagai dosen di Universitas Gorontalo itu, sudah sejak 2010 hingga 2025, sebelum mengundurkan diri.
“Karier dosen saya dimulai di UG. Di kampus itu saya ditempa dan diproses, maka tentu saya punya tanggungjawab moril untuk kampus itu, tetapi semua sudah berakhir,” ucapnya.
Sofyan juga menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh civitas akademika Universitas Gorontalo.
“Saya mengucapkan permohonan maaf kepada seluruh civitas akademika Universitas Gorontalo dirinya tidak bisa meneruskan amanah yang sudah disematkan dipundak saya hingga selesai masa jabatan ini, ” tukas Sofyan.
Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan DLP Gorontal, Mohammad Rolly Paramata mengatakan, pasca pengunduran diri Sofyan Abdullah dari jabatan rektor tidak menimbulkan riak apapun di lingkungan kampus.
“Alhamdulillah dengan posisi sekarang ini rektor mundur dan tidak ada riak-riak,” ujarnya.
Ia menyebut, ini merupakan suatu bentuk kedewasaan Universitas Gorontalo dalam menghadapi dinamika organisasi ataupun kelembagaan.
“Ini menandakan kedewasaan dari Universitas Gorontalo dalam rangka menghadapi situasi-situasi seperti ini,” kata Rolly.
Kondisi ini, kata dia, sekaligus menunjukkan rasa memiliki yang tinggi dari semua pihak terhadap Universitas Gorontalo.
“Ini bukti salah satu kedewasaan kita dalam berorganisasi, sehingga mungkin ini menjadi contoh bagi teman-teman lain bahwa perguruan tinggi itu harus tetap dengan standar proses yang berlaku dengan rasa yang sama untuk memiliki Universitas ini secara bersama-sama untuk bertanggungjawab,” pungkasnya. (Beju)



