kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
BeritaKabupaten GorontaloNusantara

Pengalaman Pamong Paskibraka Kabupaten Gorontalo, Mulai Hambatan Hingga Usulan Perbaikan Fasilitas

179
×

Pengalaman Pamong Paskibraka Kabupaten Gorontalo, Mulai Hambatan Hingga Usulan Perbaikan Fasilitas

Sebarkan artikel ini

RELATIF.ID, GORONTALO – Sejak pertama kali terlibat menjadi pamong Paskibraka di 2014, Aprilliani Konijo, telah melalui banyak fase dalam perjalanan Paskibraka Kabupaten Gorontalo.

Ia menyaksikan langsung bagaimana setiap angkatan memiliki karakter berbeda-beda, dengan semangat dan tantangan masing-masing.

Baginya, menjadi pamong bukan sekadar melatih gerakan baris-berbaris, tetapi juga menempa mental disiplin bagi anak-anak muda, anggota Paskibraka

Lebih dari sepuluh tahun mendampingi, ia mengakui bahwa rasa lelah dan tanggung jawab besar sering datang bersamaan.

Namun, setiap kali menyaksikan anggota Paskibraka tampil maksimal di lapangan upacara, semua pengorbanan itu seakan terbayar lunas.

“Sejak saya terlibat dari 2014, rasanya setiap tahun selalu ada cerita berbeda. Yang paling berkesan tentu saat melihat adik-adik bisa tampil maksimal di hari upacara,” tutur Aprilliani.

Hambatan Saat Latihan

Di balik kesuksesan barisan tegap, pamong juga sering berhadapan dengan berbagai hambatan. Cuaca sering menjadi tantangan utama. Hujan membuat lapangan tergenang dan sulit digunakan. sementara panas terik matahari, relatif masih bisa ditoleransi.

Kondisi ini kerap memaksa mereka mencari cara agar latihan tetap berjalan.

Selain itu, tempat latihan yang digunakan juga menimbulkan masalah tersendiri. GOR yang dipakai untuk latihan merupakan fasilitas umum, sehingga sering berbenturan dengan aktivitas olahraga masyarakat.

“Kalau panas tidak apa-apa, cuma kalau hujan kan ada genangan, itu sulit kami antisipasi. Apalagi tempat latihan ini juga kan tempat umum, jadi sering terganggu dengan aktivitas olahraga lain di GOR,” jelas Aprilliani.

Dinamika Karakter Peserta

Tak hanya faktor teknis, dinamika karakter anggota Paskibraka juga menjadi tantangan. Setiap calon anggota paskibraka datang dengan latar belakang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang tidak sama. Ada yang cepat beradaptasi, ada pula yang sulit mengikuti ritme latihan.

Menarik Untuk Anda :  Demo Mahasiswa Berlangsung Damai, Minta Pemda dan DPRD Kabgor Sepakati 7 Tuntutan

“Kesannya itu ketemu dengan adik-adik yang beda-beda karakter. Ada yang suka mendongkol ketika dilatih,” ungkap Aprilliani.

Ia menambahkan, masalah kecil sering muncul, mulai dari kesulitan meluruskan kaki hingga rasa malas yang timbul ketika lelah.

Aprilliani bilang, fokus yang mudah goyah juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Namun semua itu dianggapnya bagian dari proses pembinaan. Bagi dia, menghadapi karakter beragam justru memperkaya pengalamannya sebagai pamong.

Kesabaran dan Komitmen

Untuk menghadapi tantangan itu, kesabaran menjadi kunci utama. Pamong dituntut untuk tidak mudah menyerah dan tetap konsisten melatih, meski progresnya tidak selalu instan.

“Untuk menghadapi itu, tentunya kita butuh sabar yang ekstra. Untuk menempatkan hasil yang maksimal, kita harus semangat dan tidak berhenti berjuang,” tegasnya.

Ia percaya, hasil yang baik hanya bisa dicapai lewat pendampingan berkesinambungan. Rasa lelah memang tidak bisa dihindari, tetapi semangat membentuk generasi muda yang disiplin membuat langkahnya tak pernah berhenti.

Menurutnya, dedikasi pamong adalah bagian terpenting dari keberhasilan Paskibraka.

Penampilan Maksimal Dengan Fasilitas 

Selain bercerita soal pengalaman dan tantangan, Aprilliani juga menyampaikan harapannya kepada pihak terkait, terutama soal fasilitas dan jumlah anggota Paskibraka.

Salah satu yang menjadi harapan Pamong adalah jumlah anggota Paskibraka Kabupaten Gorontalo dikembalikan seperti ditahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini hanya ada 26 orang, jauh dari jumlah ideal 34 anggota yang terbagi 17 putra dan 17 putri.

Tidak hanya itu, jumlah pamong dan pelatih juga disebut perlu dikembalikan seperti sebelumnya, masing-masing berjumlah 10 orang agar pembinaan Paskibraka lebih efektif.

“Kemudian fasilitas atau tempat tinggal memang layak, tapi juga masih kurang. Terus, reward untuk adik-adik Paskibraka,” ucapnya.

Bagi Aprilliani, perjuangan pamong adalah bagian dari tugas senyap di balik tegaknya Sang Merah Putih. Ia berharap perhatian dari berbagai pihak dapat memperkuat semangat generasi muda dalam menjalankan tugas sakral setiap 17 Agustus.

Menarik Untuk Anda :  Pani Gold Project Serobot Lahan, 12 Orang Masyarakat Dikriminalisasi

“Kami hanya ingin melihat adik-adik bisa tampil maksimal, dengan fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Dedikasi lebih dari satu dekade membuat Aprilliani percaya bahwa Paskibraka bukan hanya simbol upacara, melainkan wadah pembentukan karakter anak bangsa.

Dengan dukungan penuh dari pihak terkait, ia yakin Paskibraka di Kabupaten Gorontalo, akan terus melahirkan generasi terbaik bagi daerah dan negara. (Beju)

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312