kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
BeritaSosialTNI/Polri

Keluarga Minta Tranparansi Pengungkapan Dugaan Kasus Kematian Prajurit TNI Batalyon Arhanud

205
×

Keluarga Minta Tranparansi Pengungkapan Dugaan Kasus Kematian Prajurit TNI Batalyon Arhanud

Sebarkan artikel ini
Alm. Prada Rezki Putra Pratama acungkan senjata keatas (foto. Istimewa)

RELATIF.ID, MAKASSAR – Kasus dugaan kematian seorang prajurit muda TNI Batalyon Arhanud Makassar, menimbulkan duka mendalam bagi keluarga.

Dilansir dari Infocelebes.com, korban yang diketahui bernama Prada Rezki Putra Pratama, dilaporkan tengah menempuh pendidikan militer. Ia tumbang saat mengikuti lari siang pada Jumat, 24 Januari 2025.

Dinosaur

Menurut keterangan pihak Arhanud, korban pingsan pada putaran kedua. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Ibnu Sina, namun nyawanya tak tertolong.

Kematiannya Prada Rezki menimbulkan banyak kejanggalan. Hasil autopsi medis menunjukkan fakta yang mencengangkan, korban mengalami luka lebam, wajah robek, leher patah, tulang bergeser, pencernaan hancur, jantung robek sepanjang 4 cm, serta pembuluh darah pecah.

Hasil ini kemudian bertolak belakang dengan narasi bahwa korban hanya “jatuh pingsan” saat lari siang.

Dalam konferensi pers di rumah duka, Perumahan Griya Mawang Indah, Jalan Jeruk, Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Bonto Marannu, Kabupaten Gowa, Jumat (29/8/25), ibunda korban, Jumiany mengatakan, bahwa anaknya meninggal dunia bukan karena sebab alamiah.

“Anakku sehat, dia sering telepon saya. Tidak pernah sakit. Tiba-tiba dikabarkan meninggal karena pingsan. Tapi tubuhnya penuh luka. Kalau hanya jatuh, tidak mungkin kondisinya begitu parah,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Jumiany menolak segala bentuk manipulasi fakta dan mendesak agar kasus ini diusut secara transparan, tanpa intervensi pihak manapun.

Sementara itu, ia juga mengapresiasi keberanian tim medis yang telah membuka hasil autopsi secara jujur.

“Kami menuntut keadilan. Jangan sampai kasus ini ditutupi. Anak saya adalah korban, dan pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” tegasnya.

Lebih jauh, Jumiany menyampaikan bahwa kematian putranya menjadi yang terakhir. Ia berharap berharap tidak ada lagi korban selanjutnya.

Menarik Untuk Anda :  Tinjau Progres Sasaran TMMD Ke-112, Dandim 1304/Gorontalo Sampaikan Terima Kasih Pada Rakyat Desa Tulabolo

“Saya tidak mau ada lagi ibu-ibu lain yang menangis seperti saya. Semoga kasus anak saya jadi pelajaran, supaya tidak ada lagi korban berikutnya di barak TNI,” ucapnya penuh haru.

Kenang Prada Rezki

Di mata keluarga, Prada Rezki bukan sekadar prajurit muda TNI yang gugur dalam tugas. Ia adalah anak penyayang yang kerap menelpon ibunya, meski sedang sibuk menjalani pendidikan militer.

“Anakku tidak pernah lupa bertanya apakah saya sudah makan atau butuh sesuatu. Dia anak yang penyayang,” kenang Jumiany.

Sejak kecil, Rezki bercita-cita ingin menjadi tentara. Setiap bermain dengan teman-teman sebayanya di kampung, ia layaknya prajurit gagah berani melawan musuh di medan.

Tekad Rezki semakin bulat ketika ia diterima mengikuti pendidikan di Arhanud.

“Dia selalu bilang, ‘Ma, saya mau bikin mama bangga. Saya akan jadi tentara yang baik, yang jujur, dan tidak menyusahkan orang,’” ujar ibunya, menahan tangis.

Namun, cita-cita itu kini tinggal kenangan. Rezki yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga, justru pulang dalam peti jenazah dengan tubuh penuh luka.

Pandangan Sosial Atas Kematian Prada Rezki  

Kematian Prada Rezki menimbulkan pandangan dari Pemerhati Sosial, M. Jufri. Ia menilai kasus ini harus menjadi momentum bagi TNI untuk membuka diri terhadap mekanisme hukum yang lebih transparan.

Menurut Jufri, praktik kekerasan di barak tidak bisa lagi ditoleransi dengan dalih pembinaan disiplin.

“Kalau hasil autopsi sudah sejelas ini, tidak boleh ada upaya menutup-nutupi. Kematian prajurit muda ini harus diusut secara terbuka, bukan hanya di lingkaran peradilan militer. Jika ada tindak pidana penganiayaan, maka harus diproses sesuai hukum pidana umum,” tegas Jufri.

Ia juga mendesak pemerintah dan lembaga independen untuk ikut mengawal kasus tersebut, agar keluarga korban mendapat keadilan yang sesungguhnya.

Menarik Untuk Anda :  Pangdam XIII/Merdeka Ikuti Vicon Launching Program TNI Manunggal Air Tahun 2024 di Wilayah Korem 133/Nani Wartabone

Dengan demikian, kasus kematian Prada Rezki Putra Pratama ini menambah daftar panjang dugaan kekerasan di lingkungan pendidikan militer.

Para pengamat menilai, budaya kekerasan berbasis senioritas yang dibiarkan berlarut-larut, justru mencederai wibawa TNI dan merugikan keluarga besar prajurit sendiri.

Publik kini menanti langkah tegas dari institusi TNI untuk mengusut kasus tersebut hingga tuntas. Bukan sekadar menjaga citra, melainkan demi memastikan bahwa barak tidak lagi menjadi ruang kematian bagi prajurit muda. (Beju)

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312