RELATIF.ID, GORONTALO – Setelah beberapa kali mengalami penundaan, Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI DPD II Partai Golkar Kabupaten Gorontalo akhirnya terlaksana, Selasa (9/12/2025).
Namun, di balik terselenggaranya forum tersebut, ada keputusan besar Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, yang dinilai peting. Ia mengambil alih langsung pelaksanaan Musda DPD Kabupaten Gorontalo ini.
Idah mengungkapkan bahwa keputusan itu, diambil karena Musda tak kunjung menemukan titik final.
“Saya berpikir, kenapa Musda harus diundur-undur terus? Sementara waktu sudah dekat dengan Natal. Akhirnya saya perintahkan Sekretaris DPD I untuk mengambil alih Musda ini,” tegasnya.
Menutup Akses Kandidat Adalah Langkah Netralitas Melawan Kasak-Kusuk
Salah satu langkah paling tegas Idah adalah menutup seluruh akses komunikasi dari para kandidat, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui telepon.
“Saya menutup akses kepada seluruh kandidat, secara langsung maupun via telepon. Saya tidak mau mendukung seseorang. Mohon maaf, saya tidak menerima pertemuan,” jelasnya.
Menurutnya, tindakan itu diambil untuk memastikan tidak ada lobi-lobi gelap dan menjaga integritas Musda.
Idah bahkan mengakui bahwa salah satu kandidat, Iskandar Mangopa, sempat menelpon namun tidak ia angkat.
“Maaf, saya tidak menerima telepon Anda. Semua saya perlakukan sama,” katanya.
Keputusan tersebut diambil untuk menghapus anggapan adanya dukungan terselubung.
Menolak Tegas Komunikasi DPP: “Ini wilayah saya”
Dalam pernyataannya, Idah mengungkapkan bahwa ia sempat dihubungi oleh pihak DPP untuk mendukung salah satu kandidat. Namun, ia menolak keras.
Bagi dia, DPP seharusnya cukup memberi restu dan mengawasi, bukan ikut cawe-cawe dalam dinamika internal partai di daerah.
“Saya mendapat telepon dari DPP, saya harus mendukung seseorang. Saya bilang: yang ketua DPD I itu siapa? Anda atau saya? Ini wilayah saya. Saya yang tahu kader-kader terbaik saya,” tegasnya.
Belajar Ketegasan dari Rusli Habibie
Idah menegaskan bahwa ketegasan sikap yang ia ambil itu bukan tanpa dasar. Ia menyebut, dirinya belajar ketegasan ini langsung dari Rusli Habibie.
“Walaupun saya perempuan, saya cukup tegas. Karena saya belajar ketegasan dari pak Rusli Habibie,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan pesan Rusli agar ia memilih kader terbaik yang bisa membawa partai lebih adem, nyaman, dan maju.
Empat Kandidat Disebut Kader Terbaik
Idah menganggap empat kandidat yang bertarung dalam Musda ini, adalah kader terbaik dengan kapasitasnya masing-masing.
Iskandar Mangopa, legislator yang sudah beberapa periode meraih kursi di DPRD Kabupaten Gorontalo.
Zulfikar Usira, salah satu kandidat kuat dan potensial, dengan dibuktikan menjadi Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo dalam periode ini.
Wilvon Malahika, kader perempuan yang menurut Idah layak tampil karena “kesempatan bagi perempuan harus dibuka”.
Hendra Hemeto, Ketua DPD II yang mengantarkan Golkar meraih 9 kursi di DPRD.
Idah menekankan bahwa semua kandidat harus diperlakukan setara.
Menolak Politik Uang: “Roh Partai Golkar Bisa Jatuh”
Idah juga menyentil isu kasak-kusuk terkait politik uang di belakang Musda.
“Saya mendengar kasak-kusuk ada uang… uang… uang. Saya tidak mau itu. Ini akan menjatuhkan roh Partai Golkar itu sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, Partai Golkar hanya bisa maju jika dijaga dengan sikap jujur dan transparan.
Seruan Persatuan Setelah Musda
Diakhir penyampaiannya, Idah meminta siapapun yang terpilih sebagai ketua DPD II Golkar Kabupaten Gorontalo dalam musda tahun ini, ia dapat merangkul kandidat lain dan memajukan Golkar secara bersama.
“Siapapun yang terpilih nanti, tolong majukan Partai Golkar. Dan yang belum beruntung, terima kasih karena telah ikut berjuang,” ujarnya.
Idah berharap Musda ini menjadi momentum konsolidasi, bukan perpecahan, terutama di tengah persaingan politik yang semakin ketat. (Beju)



