RELATIF.ID, KABUPATEN GORONTALO – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Kabupaten Gorontalo menunjukkan capaian yang menggembirakan.
Hingga awal Agustus 2026, program tersebut telah menjangkau lebih dari separuh jumlah penduduk Kabupaten Gorontalo.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Gorontalo terus memperkuat transformasi Posyandu agar tidak hanya menjadi pusat layanan kesehatan, tetapi juga pelayanan masyarakat yang terintegrasi.
Dalam rapat advokasi, koordinasi, dan bimbingan teknis (Bimtek) Tim Pembina Posyandu Tingkat Kabupaten Gorontalo di Grand Resto Bukit Proja, Kamis (6/8/2026), dilaporkan Program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau 225.999 warga Kabupaten Gorontalo.
Artinya, jumlah tersebut mencapai 54,43 persen dari total proyeksi penduduk sebanyak 415.237 jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Ismail Akaseh mengatakan, capaian tersebut semakin mendekati target daerah sebesar 60 persen.
Keberhasilan itu, kata dia, didukung oleh 435 Posyandu yang telah terdaftar pada microsite nasional serta 1.471 kader yang tersebar di 19 kecamatan.
Berdasarkan pada Permendagri Nomor 13 Tahun 2024, transformasi Posyandu kini diperluas untuk mendukung enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Enam bidang SPM itu meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, hingga sosial.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo menilai, transformasi tersebut menjadi langkah penting untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih dekat, terpadu, dan mudah diakses masyarakat.
Meski capaian Program CKG terus meningkat, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi mengingatkan bahwa masih adanya tantangan serius pada sektor kesehatan, khususnya tingginya angka kematian ibu dan bayi.
Hingga Juli 2026, tercatat 12 kasus kematian ibu serta 36 kasus kematian neonatal dan bayi di Kabupaten Gorontalo.
Menurut Sofyan, persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan semata, dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak yang terkait.
“Angka kematian ibu dan angka kematian bayi bukan sekadar statistik, tetapi cerminan kualitas pelayanan publik dan kepedulian sosial kita bersama,” tegasnya.
Olehnya, Bupati Gorontalo itu meminta seluruh Tim Pembina Posyandu, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa dan kelurahan, memahami pelaksanaan Posyandu enam bidang SPM, termasuk pembinaan kader, pelayanan, serta sistem pencatatan dan pelaporan.
Dengan demikian, melalui transformasi Posyandu dan penguatan Integrasi Layanan Primer, pemerintah daerah menargetkan pelayanan kesehatan di Kabupaten Gorontalo semakin berkualitas, mudah dijangkau, serta mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Beju)



