BeritaBone Bolango

Bappeda: Potensi Kabila Bone Belum Terhubung Jadi Rantai Ekonomi

5
×

Bappeda: Potensi Kabila Bone Belum Terhubung Jadi Rantai Ekonomi

Sebarkan artikel ini

RELATIF.ID, BONE BOLANGO – Meski Botubarani dan Taman Laut Olele ramai dengan wisatawan, banyaknya pelaku UMKM, hingga potensi perikanan dan pertanian, namun hal itu belum sepenuhnya membentuk rantai ekonomi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat di Kecamatan Kabila Bone.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Bappeda Litbang Bone Bolango dalam menyusun rencana pembangunan kawasan perdesaan. Pemerintah daerah ingin berbagai potensi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri mulai dihubungkan agar saling menguatkan.

Kepala Bappeda Litbang Bone Bolango, Sri Mulyani Lalijo, mengatakan Kabila Bone sebenarnya memiliki modal ekonomi yang besar. Terdapat 1.362 pelaku UMKM, potensi perikanan di TPI Inengo, komoditas pisang dan cabai rawit, serta destinasi wisata bahari yang telah menarik lebih dari 110 ribu wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun, besarnya potensi tersebut belum otomatis membuat manfaat ekonominya dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.

“Bukan kekurangan potensi, tapi kekurangan orkestrasi,” kata Sri Mulyani pada Sosialisasi Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan di Naffil Cafe dan Resto, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan jumlah produksi atau kunjungan wisatawan. Yang lebih penting adalah memastikan aktivitas tersebut menciptakan hubungan ekonomi dari hulu hingga hilir.

Wisatawan yang datang ke Botubarani dan Olele, misalnya, diharapkan tidak berhenti sebagai angka kunjungan. Mereka harus menjadi pasar bagi produk UMKM, usaha kuliner, jasa masyarakat hingga produk perikanan dan pertanian lokal.

Begitu pula hasil pertanian dan perikanan. Produk masyarakat tidak hanya dijual dalam bentuk komoditas mentah, tetapi didorong masuk ke proses pengolahan, pengemasan, pemasaran dan distribusi agar nilai jualnya meningkat.

Untuk itu, Bappeda menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari pemetaan potensi sembilan desa, penguatan Tourism Information Centre (TIC), pendampingan UMKM, sertifikasi dan pengembangan kemasan, hingga penguatan BKAD dan BUMDesma sebagai agregator ekonomi kawasan.

Menarik Untuk Anda :  Kepala Kejari Kabgor: Kasus Perlindungan Anak dan Asusila Berkurang

Akses pasar juga menjadi perhatian. Produk lokal akan diarahkan masuk ke katalog produk, business matching dan pemasaran digital, termasuk membuka peluang kerja sama dengan hotel, restoran, pasar modern dan pelaku industri pariwisata.

Sri Mulyani menilai pendekatan tersebut penting agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka, tetapi benar-benar menciptakan aktivitas usaha yang lebih luas di tingkat masyarakat.

Kabila Bone dipilih sebagai kawasan awal karena memiliki kombinasi potensi yang relatif lengkap, mulai dari laut, perikanan, pertanian, pariwisata hingga UMKM.

Jika keterhubungan antarsektor tersebut berhasil dibangun, pola ini diharapkan dapat menjadi model yang dikembangkan di wilayah lain di Bone Bolango.

“Dengan pendekatan itu, pembangunan kawasan perdesaan tidak lagi sekadar soal membangun infrastruktur atau menjalankan program sektoral. Ukuran keberhasilannya diarahkan pada seberapa besar potensi kawasan mampu menciptakan usaha, memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah dan pada akhirnya memperkuat pendapatan masyarakat,” tutupnya. (Beju)