RELATIF.ID – Setelah melalui perjuangan panjang, Haboga akhirnya terpilih sebagai Kepala Pusat Kuliner (Kapukul) di desanya. Namun, tak ada waktu untuk berleha-leha. Tugas besar sudah menantinya: menyusun RPJMD (Rencana Pembuatan Jagung Manis dan Dodol) dalam waktu enam pekan sejak pelantikannya. Visi besarnya bukan sekadar menciptakan olahan jagung manis dan dodol yang lezat, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan semua pihak yang terlibat. Kepercayaan yang diberikan kepadanya harus dibuktikan dengan perencanaan yang matang dan eksekusi yang terukur.
RPJMD yang disusunnya bukan sekadar kumpulan kata-kata dalam dokumen atau sekadar resep yang mengatur takaran bahan. RPJMD ini adalah cetak biru perencanaan yang konkret dan realistis. Bahan baku, teknik pengolahan, alat produksi, strategi pemasaran—semuanya harus dipikirkan secara seimbang dan menyeluruh. Haboga tahu, tanpa perencanaan yang baik, keberhasilan hanya akan menjadi angan-angan. Oleh karena itu, rencananya harus lebih unggul dibanding desa lain yang memiliki produk serupa.
Langkah pertama yang ia lakukan bersama timnya adalah meninjau warisan Kapukul sebelumnya: apa yang telah dicapai, apa kelemahannya, dan apa yang bisa ditingkatkan. Dari evaluasi awal ini, arah baru bisa ditentukan. Bagaimana jagung manis akan diolah—direbus atau dikukus? Bagaimana tekstur dodol yang ideal? Siapa target pasarnya? Bagaimana strategi produksi dan pemasaran? Semua pertanyaan ini memenuhi pikirannya. Ia sadar, keberhasilan pusat kuliner bergantung pada fondasi yang kuat dan rencana yang terukur.
Haboga dan timnya juga harus menggandeng para ahli dari perguruan tinggi yang memahami perencanaan dan pengolahan sumber daya. Mereka diperlukan agar RPJMD yang disusun tidak sekadar menjadi dokumen teoritis tanpa kreativitas dan inovasi. Namun, ia menolak pendekatan “kopi-paste” yang kerap terjadi di desa lain dalam penyusunan RPJMD. Haboga bertekad untuk mengawasi langsung setiap prosesnya, memastikan dokumen ini orisinal, berbasis riset yang kuat, dan dapat diterapkan secara nyata.
Pikirannya pun mulai tertuju pada ketersediaan sumber daya untuk dapur produksi yang dipimpinnya. Jagung berkualitas, santan segar, gula merah yang manis, alat produksi yang memadai, tenaga kerja yang terampil, serta kesiapan finansial—semua ini harus diperhitungkan dengan cermat. Ia harus memastikan bahwa timnya bekerja serius dalam mencari solusi atas setiap kendala, dengan data yang akurat dan strategi yang jelas. Tanpa kesiapan yang matang, RPJMD ini hanya akan menjadi tumpukan kertas tanpa implementasi.
Namun, apakah RPJMD ini bisa langsung dijalankan setelah semua tahapan itu dilalui? Tidak. RPJMD ini harus diketahui dan dipahami oleh semua pihak yang terlibat. Bukan hanya untuk konsumsi dirinya, timnya, dan para ahli dari perguruan tinggi, tetapi juga masyarakat luas. Rencana ini harus diuji, dikritisi, dan diperbaiki melalui konsultasi publik. Haboga yakin, keterlibatan masyarakat akan menjadikan RPJMD ini lebih inklusif, realistis, dan dapat diterima oleh semua pihak. Ia tidak ingin sekadar formalitas—di mana warga hanya datang, menerima kotak makanan dan amplop, lalu pulang tanpa memahami substansi RPJMD. Dalam kepemimpinannya, keterlibatan masyarakat harus benar-benar bermakna.
Semakin dalam ia berpikir, semakin yakin Haboga bahwa setiap tahap yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan perbaikan yang signifikan. RPJMD ini bukan sekadar dokumen lima tahunan, melainkan panduan strategis yang akan menentukan masa depan pusat kuliner di desanya. Tantangan terbesar adalah memastikan semua yang tertulis benar-benar diwujudkan dalam kebijakan, program, dan aksi nyata. Dengan perencanaan yang matang, eksekusi yang tepat, serta evaluasi yang berkelanjutan, RPJMD ini akan menjadi tonggak kemajuan dan kesejahteraan bagi semua yang terlibat.
Haboga tersadar. Waktu untuk berpikir sudah cukup. Kini saatnya bertindak. Dengan keyakinan yang semakin kuat, ia meraih ponselnya dan mengetik pesan:
“Saudara-saudaraku, saatnya melangkah ke tahap berikutnya. Janji harus diwujudkan, harapan harus dibuktikan. Mari kita susun RPJMD yang bukan hanya kumpulan kata-kata indah, tetapi rencana aksi nyata untuk kesejahteraan kita semua. Bismillah.”



