RELATIF.ID, GORONTALO — Di atas bukit di Desa Pone, Kecamatan Limboto Barat, kilau lampu malam menyatu dengan semilir angin yang membawa aroma tanah basah.
Di sinilah, Senin malam, 14 April 2025, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi meresmikan Grand Bukit Proja, sebuah kompleks wisata terpadu yang menggabungkan hotel, restoran, dan fasilitas karaoke.
Mengusung nama Proja, tempat ini berdiri di jantung kawasan wisata yang tengah menggeliat.
Dalam sambutannya, Sofyan menyebut Bukit Proja sebagai wujud keberanian lokal membangun tanpa sepenuhnya menggantungkan diri pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Tempat seperti ini harus kita dukung. Bagaimana daerah bisa tumbuh jika tidak ada yang memulai? Dan yang memulai ini, putra daerah sendiri,” kata Sofyan.
Ia menilai, Kabupaten Gorontalo memiliki banyak potensi wisata yang selama ini belum dikelola maksimal.
Kehadiran Bukit Proja, menurutnya, menjadi angin segar dalam lanskap investasi pariwisata di daerah.
“Usaha itu harus dimulai. Jangan tunggu siap. Modal pertama adalah keberanian,” ujarnya di hadapan tamu undangan yang terdiri dari anggota DPRD, pimpinan OPD, para camat, dan sejumlah tokoh masyarakat.
Sofyan juga melihat peluang tempat ini dijadikan lokasi strategis untuk berbagai agenda nasional yang akan digelar dalam waktu dekat.
Ia menyebut perhelatan besar seperti Pramuka Nasional dan Penas HTNA bisa diarahkan berkunjung ke Bukit Proja.
“Juni dan Agustus tahun ini, kami rekomendasikan tempat ini masuk dalam daftar destinasi,” ungkapnya.
Bupati bahkan tak menutup kemungkinan menjadikan Bukit Proja sebagai lokasi kegiatan pemerintahan.
“Fasilitasnya sudah cukup memadai. Beberapa bangunan sudah sangat representatif,” kata Sofyan.
Tak ketinggalan, ia berpesan kepada sang pemilik atau owner Grand Bukit Proja, Iskandar Mangopa, agar turut mengangkat kuliner khas Gorontalo di restoran Bukit Proja.
“Kalau bisa, makanan khas Gorontalo juga disediakan. Supaya orang kenal,” katanya.
Sementara itu, pemilik Grand Bukit Proja, Iskandar Mangopa, mengungkapkan alasan di balik hadirnya Grand tersebut.
Ia menjelaskan, pembangunan Grand Bukit Proja dilandasi semangat untuk menggerakkan roda ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan pada aktivitas atau pertemuan yang selama ini banyak dilakukan di luar daerah.
“Kami ingin tempat ini jadi pemicu perputaran ekonomi di daerah. Tidak hanya sebagai tempat wisata, tapi juga sebagai ruang pertemuan, relaksasi, dan hiburan yang bisa dinikmati semua kalangan,” ujar Iskandar.
Ia berharap Grand Bukit Proja bisa menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk berkegiatan sekaligus bersantai bersama keluarga, sahabat, atau rekan kerja.
“Semua kami rangkai sebagai kontribusi nyata untuk membangkitkan kembali sektor wisata di daerah,” tutup Iskandar.
Penulis: Beju



