Ridwan Tohopi; Lestarikan Budaya, Jangan Tinggalkan Makna Ritual Tumbilo Tohe

109

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo, Ridwan Tohopi, Tumbilo Tohe ini adalah sebuah budaya yang harus tetap dipelihara dan tumbilotohe yang bermakna ritual jangan sampai hilang, walaupun saat ini, sejak tahun 1980-an dan pergeseran tradisi ini terasa begitu cepat. Karena ini merupakan tradisi dan budaya lokal, saya kira perlu kita lestarikan.

Dikatakannya, substansinya makna ritual ada dua, yakni, menunggu kedatangan Lailatul Qadar, dan yang kedua, memperjelas dalam satu rumah itu selesai menghatam al-Quran. Subtansi ritual ini yang hampir ditinggalkan, dan lebih menonjol pada aspek, wisata, ekonomis bahkan politis

Ridwan , mengungkapkan, malam Tumbilotohe ‘pasang lampu’ seharusnya menggunakan belahan pepaya ditaru kapas, atau lampu botol, bukan lampu hias menggunakan listrik.

Dikisahkannya, zaman dahulu, pada tahun 1500-an, belum ada minyak, yang ada, adalah kelapa yang diolah menjadi sumber minyak itu ditaruh di belahan pepaya ditaru kapas, itu sebenarnya lampu Gorontalo dulu. Dulu obor, sebelum dari pelepah pepaya, Orang ke Masjid bawa obor, dan lampu botol masuk pada fase ke 4, karena dulu itu padamala, ungkap Ridwan usai memasang 1442 ribu lampu botol di halaman kampus, Minggu (9/5/2021). Dirinya berharap, subtansi ritual tradisi tumbilotohe tetap dipelihara dan dijaga keasliannya.

Ridwan menjelaskan, sebenarnya pada fase tahun 1500-an, Islam masuk di Gorontalo, tanda lampu itu, adalah tanda orang yang telah khatam al-Quran selama bulan Ramadhan. Jika ada 5 jiwa dalam satu rumah, itu di lihat dari jumlah lampu. Kalaw dia sudah khatam al-Quran, akan keluar lampu. Jadi begitu sejarahnya dan makna yang terkandung didalamnya, terangnya

Ridwan menambahkan, tradisi tumbilotohe juga dihubungkan dengan 10 malam terakhir turunnya Lailatul Qadar. Dalam perkembangan-perkembanganya, karena sudah dikaitkan lagi dengan qiyas, dan ijtihad para ulama, 10 hari terakhir itu, Lailatul Qadar itu perlu disambut dengan terang. Maka para ulama sepakat dinamakan Tubilotohe, untuk menjemput itu, ulasnya.

Nah Lailatul Qadar turun itu, dikaitkan bersamaan dengan orang khatam al-Quran, maka dilaksanakan Tumbilotohe. Jadi melihat orang yang sudah khatam itu, dilihat dari jumlah lampu, jelasnya.

Ridwan mengatakan, dahulu, dari rumah sebelah ke rumah sebelah, orang itu bisa melihat melalui lampu yang menyala. Jadi kalaw sudah ada dua orang yang khatam al-Quran pada saat itu, sampai kalau dia lima orang, maka sejumlah jiwa yang ada di rumah itu yang dipasangkan lampu, kecuali yang belum Akil baligh. Itu sejarahnya, tuturnya.

Dikatakannya, substansinya ada dua, yakni, menunggu kedatangan Lailatul Qadar, dan yang kedua, memperjelas dalam satu rumah itu selesai menghatam al-Quran.

Ridwan menerangkan, di masa Popa Eyato, orang-orang malah berlomba-lomba menyelesaikan bacaan al-Qur’an. Sebulan itu, sampai 5 kali, atau 10 kali khatam al-Quran dalam bulan Ramdhan,

Imbuhnya, jika mengambil iktibar ‘pengajaran’, dari sebuah proses tumbilotohe, ada dua, pertama, memperkuat budaya, dan yang kedua, mulai dari 10 malam terakhir sudah mulai dilakukan. Bukan nanti di hari terakhir. Itu yang harus dikembalikan, harapnya.

Ridwan berharap berharap, jika mau dilombakan tradisi tumbilotohe, bukan menggunakan lampu hias. seolah-olah lampu hias itu, mempercantik, Jangan semua menggunakan lampu hias, karena substansinya adalah lampu yang dinyalakan, kalau perlu dikembalikan ke lampu yang dulu, seperti pelepah pepaya, yang didalamnya ada minyak kelapa, itu sudah diatur sampai subuh, selesai dia mati sendiri, ketusnya.

Ia juga menerangkan, tumbilotohe ini hanya ada di Gorontalo. Jika ada di Daerah lain, seperti Bolaang Mongondow, Sulawesi Tengah, di daerah Buol, atau di palu, itu bukan tradisi orang sana, itu orang Gorontalo yang melaksanakannya disana, katanya.

Lanjutnya, Salah satu akademisi Gorontalo ini menilai, kadang pelaksanaan tradisi tumbilotohe telah bergesar pada 3 aspek, yakni, politik, ekonomi, dan ritual. Ritual ini yang hampir ditinggalkan, dan lebih menonjol pada dua aspek, aspek ekonomis dan politi. ucapnya.

Terakhir, ia menyampaikan, jika mau dilombakan, seharusnya dikembalikan, bukan terfokus pada semarknya banyaknya lampu listrik. Bukan disitu maksudnya. Seharusnya yang dilombakan itu, berapa jumlah rumah yang masih menggunakan lampu, dalam sebuah kampung. Ini yang harus dikembalikan pada kultur asli budaya Gorontalo, pungkasnya.

You might also like
Verification: 436f61bca2cedeab