RELATIF.ID, GORONTALO – Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Gorontalo terus melakukan pendampingan terhadap korban dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum polisi.
Korban yang belakangan diketahui merupakan seorang anak berusia 12 tahun.
Kepala Dinas PPA Kabupaten Gorontalo, Zescamelya Uno mengungkapkan, peristiwa yang dialami korban memberikan dampak serius pada psikologisnya.
“Korban sering menangis, selalu diselimuti ketakutan, gemetaran, hingga enggan bersekolah lagi. Itu bentuk traumanya karena mengingat kejadian kemarin,” kata Zescamelya usai menemui korban pada Rabu (10/9/2025).
Ia menjelaskan, bukan hanya korban yang merasakan trauma. Sang ibu juga mengalami kondisi serupa hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
“Ibunya juga sekarang merasakan trauma akibat kejadian ini,” ujarnya.
Zescamelya menambahkan, pendampingan yang dilakukan pihaknya merupakan langkah awal pemulihan bagi korban.
Dinas PPA juga berkomitmen untuk terus mendampingi korban hingga proses hukum kasus ini selesai.
“Korban bukan hanya mendapatkan pendampingan pemulihan psikologis, tetapi juga pendampingan hukum. Kita fokus untuk pemulihan psikologi korban. Untuk ibunya juga, insyaallah keluar dari rumah sakit kita lakukan pendampingan,” pungkasnya.
Peristiwa Terjadi
Ayah korban, Elfis (40) menuturkan, peristiwa tersebut bermula pada Jumat sore, 5 September 2025.
Saat itu, anaknya sedang bermain di masjid bersama sejumlah anak lain, termasuk anak dari terduga pelaku, sambil menunggu waktu salat Magrib.
Dalam suasana bermain, sempat terjadi keributan kecil antara keduanya. Anak terduga pelaku kemudian melapor kepada orang tuanya.
Tak lama berselang, Elfis menerima kabar mengejutkan, anaknya dipukul oleh terduga pelaku menggunakan kayu besar hingga tubuhnya mengalami lebam.
“Tidak lama setelah itu saya mendapat kabar anak saya dipukul pakai kayu besar. Tubuhnya lebam semua,” ungkap Elfis.
Akibat kekerasan tersebut, sang anak mengalami trauma serius hingga enggan kembali ke sekolah.
Kondisi itu juga berdampak pada sang ibu yang ikut terguncang secara psikologis, sampai harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
“Gurunya datang saja sempat tidak dikenal,” ujarnya.
Elfis mengungkapkan, terduga pelaku sempat beberapa kali mendatangi istrinya untuk meminta damai. Namun, ia menolak dengan tegas.
“Kalau anak saya salah, harusnya diajak bicara baik-baik. Kalau saya yang dipukul tidak jadi masalah, tapi jangan anak saya,” terangnya. (Beju)



