kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
BeritaInternasionalOlah Raga

Kiper 40 Tahun Membuat Dunia Menoleh Cape Verde di Piala Dunia 2026

61
×

Kiper 40 Tahun Membuat Dunia Menoleh Cape Verde di Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Kiper Cape Verde, Vozinha bersalaman dengan Lionel Messi di pertandingan 32 besar Piala Dunia 2026. (Foto: FIFA World Cup 2026)

“Bermimpilah setinggi langit! Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Ir. Soekarno

RELATIF.ID – Jika berbicara tentang orang-orang yang mencapai puncak karier di usia 40 tahun, nama Josimar Dias Tavares, atau yang akrab disapa Vozinha, layak masuk dalam daftar itu.

Dinosaur

Di saat banyak pesepak bola seusianya telah gantung sepatu atau beralih profesi sebagai pelatih, Vozinha justru sedang menikmati panggung terbesar dalam kariernya.

Pada usia 40 tahun, kiper tim nasional Cape Verde (Tanjung Verde) itu menjadi salah satu sosok yang paling banyak diperbincangkan sepanjang Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat.

Penampilannya di bawah mistar gawang memukau jutaan pasang mata memandang. Dengan refleks yang masih tajam, penyelamatan-penyelamatan krusial, dan kepemimpinan yang tenang, Vozinha membuktikan bahwa pengalaman bisa menjadi senjata yang tak kalah berharga dibanding usia muda.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu datang lebih cepat. Ada mimpi yang baru menemukan jalannya ketika seseorang telah melewati usia 40 tahun.

Dan bagi Vozinha, panggung Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa kesempatan besar bisa datang kapan saja, selama seseorang tidak berhenti percaya dan terus mempersiapkan diri.

Dalam sebuah wawancara usai membawa Cape Verde mencuri perhatian dunia, Vozinha mengaku bahwa momen ini adalah puncak dari penantian yang nyaris membuatnya menyerah.

“Saya bekerja seumur hidup untuk momen ini, untuk mimpi ini. Banyak generasi sebelum saya memimpikan hari ini, tetapi mereka tidak sempat mewujudkannya. Sekarang mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan,” ujarnya dikutip dari itv.com, Senin (6/7/2026).

Pengakuan itu bukanlah sekadar kalimat emosional biasa. Bertahun-tahun sebelumnya, ia bahkan sempat berpikir untuk pensiun dari tim nasional. Namun, ada satu mimpi yang terus menahannya: membawa Cape Verde tampil di Piala Dunia. Mimpi itulah yang kemudian membuatnya memilih bertahan.

Perjalanan Vozinha menuju tim nasional pun bukan kisah yang berjalan mulus. Lahir di Mindelo, Cape Verde, ia tumbuh di negara kepulauan kecil yang minim fasilitas pembinaan sepak bola.

Saat remaja, ia berkali-kali gagal lolos seleksi karena dianggap bertubuh terlalu pendek untuk menjadi penjaga gawang. Baru ketika berusia 16 hingga 17 tahun tubuhnya mengalami pertumbuhan pesat, hingga akhirnya memiliki postur ideal sebagai kiper.

Menarik Untuk Anda :  Satu-satunya Yang Tak Pernah Ditaklukan Cristiano Ronaldo Adalah Piala Dunia

Sejak dipanggil memperkuat tim nasional Cape Verde pada tahun 2012, Vozinha menjadi sosok yang nyaris tak tergantikan di bawah mistar.

Selama lebih dari satu dekade, ia setia menjaga gawang negaranya, melewati kegagalan demi kegagalan dalam upaya lolos ke turnamen besar. Vozinha tidak pernah menjadi bintang dunia, tidak bermain di liga elite Eropa, bahkan namanya nyaris tak dikenal di luar Afrika.

Namun, roda kehidupan memang sering berputar dengan cara yang tak terduga. Ketika banyak pemain seusianya memilih mengakhiri karier, panggung terbesar justru datang menghampiri Vozinha. Pada usia 40 tahun, ia akhirnya merasakan atmosfer Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Penampilannya melawan Spanyol dan kemudian Argentina bukan hanya membuat dunia mengenal kualitasnya sebagai penjaga gawang, tetapi juga mengenal Cape Verde—negara kecil yang selama ini jarang diperhitungkan di peta sepak bola dunia.

Bahkan, setelah pertandingan, Vozinha mengatakan bahwa impian mereka bukan sekadar bermain di Piala Dunia, melainkan membuat dunia tahu di mana Cape Verde berada dan siapa rakyat Cape Verde sebenarnya.

Kisah Vozinha mengajarkan satu hal yang sederhana: tidak semua mimpi memiliki tenggat waktu. Ada mimpi yang datang ketika rambut mulai memutih, ketika usia dianggap terlalu tua oleh banyak orang. Namun, selama keyakinan tetap dijaga dan langkah tidak berhenti, panggung terbesar pun masih bisa datang pada waktu yang tidak pernah diduga.

Perjalanan Cape Verde memang harus berakhir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Namun, mereka pulang dengan kepala tegak. Bukan sebagai tim kejutan yang numpang lewat, melainkan sebagai negara kecil yang berhasil membuat dunia mengalihkan pandangan.

Di sepanjang turnamen, Vozinha menjadi tembok terakhir yang sulit ditembus. Refleksnya berkali-kali menggagalkan peluang lawan. Saat menghadapi Spanyol, ia melakukan sejumlah penyelamatan penting yang membuat para penyerang lawan frustrasi. Ketika berhadapan dengan Argentina di babak 32 besar, ia kembali tampil luar biasa. Meski harus memungut bola tiga kali dari gawangnya, sederet penyelamatan gemilang membuat Argentina harus bekerja keras hingga menit-menit akhir untuk memastikan kemenangan dengan skor 3-2.

Menarik Untuk Anda :  Mewakili Pemerintah Daerah, Ini Penyampaian Camat Limboto di Pembukaan Hutuo Soccer Cup II

Seusai pertandingan, sorotan media dunia pun tidak hanya tertuju kepada para pencetak gol, tetapi juga kepada penjaga gawang berusia 40 tahun itu. Banyak yang menyebut penampilannya sebagai salah satu kisah paling inspiratif di Piala Dunia. Di usia ketika sebagian besar pesepak bola telah pensiun atau hanya menjadi pelapis, Vozinha justru menunjukkan bahwa pengalaman, ketenangan, dan kerja keras mampu berdiri sejajar dengan talenta muda.

Pujian pun mengalir dari berbagai kalangan. Sejumlah pemain Argentina mengakui bahwa Cape Verde memberikan perlawanan yang jauh lebih sulit dari perkiraan. Mereka menilai Vozinha berkali-kali menggagalkan peluang yang seharusnya berbuah gol. Di media sosial, banyak penggemar sepak bola menyebutnya sebagai “kiper berusia 40 tahun yang bermain seperti berusia 25 tahun.”

Meski gagal melangkah lebih jauh, tidak ada penyesalan di wajah Vozinha. Ia telah menuntaskan mimpinya. Ia tidak mengangkat trofi, tetapi berhasil mengangkat nama Cape Verde ke panggung dunia.

Terkadang, kemenangan terbesar bukanlah menjadi juara, melainkan membuktikan kepada dunia bahwa mimpi tidak mengenal batas usia. Pada usia 40 tahun, ketika banyak orang merasa waktunya telah habis, Vozinha justru menulis bab paling indah dalam perjalanan hidupnya.

Usai pertandingan babak 32 besar yang dimenangkan Argentina dengan skor 3-2 itu, sang kiper Cape Verde kemudian menceritakan momen yang tak akan pernah ia lupakan saat diwawancara.

“Saya menghampiri Messi setelah pertandingan. Dia memeluk saya dan berkata, ‘Kamu hebat. Rakyatmu pasti bangga kepadamu.’ Mendengar kata-kata itu dari seseorang seperti Leo Messi sangat berarti bagi saya,” ungkap Vozinha dikutip dari goal.com.

Vozinha juga mengungkapkan bahwa Messi memenuhi permintaannya untuk bertukar jersey, sebuah kenang-kenangan yang akan selalu ia simpan dari panggung Piala Dunia pertamanya.

Sementara itu, seusai laga, Messi dalam wawancara mengakui bahwa Cape Verde bukanlah lawan yang mudah. Menurutnya, Argentina sudah mengetahui sejak awal bahwa mereka akan menghadapi tim yang sangat disiplin dan tangguh.

“Kami sudah tahu sebelumnya pertandingan ini akan sangat sulit. Bukan kebetulan mereka tidak kalah dari Spanyol maupun Uruguay. Di fase gugur, tidak ada pertandingan yang mudah,” ungkap Messi dilansir dari reddit.com

Menarik Untuk Anda :  Adhyaksa Cup 2023 Resmi Ditutup, Bupati Gorontalo Puji Kejaksaan, Purwanto Joko Irianto Ingatkan Kolaborasi Dan Sinergitas

Pujian terhadap Vozinha juga datang dari media internasional. Banyak media memasukkan namanya sebagai penjaga gawang terbaik babak 32 besar Piala Dunia 2026, setelah ia berkali-kali menggagalkan peluang Argentina, termasuk empat penyelamatan penting terhadap Messi.

Bagi Vozinha, mungkin tidak ada penghargaan yang lebih besar daripada mendengar pujian langsung dari pemain yang selama ini ia idolakan. Di usia 40 tahun, ketika banyak pesepak bola telah meninggalkan lapangan hijau, ia justru berdiri sejajar dengan Lionel Messi di panggung terbesar sepak bola dunia. Bukan sebagai penonton, melainkan sebagai lawan yang mendapatkan rasa hormat dari sang juara dunia tersebut.

Di penghujung wawancara, Vozinha menyampaikan pesan yang tidak sederhana. Ia mengatakan, setiap orang memiliki waktu masing-masing untuk mencapai tujuan. Tidak semua mimpi datang ketika masih muda, dan tidak semua keberhasilan lahir dari jalan yang mulus.

Kisahnya ini menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Bertahun-tahun ia menunggu kesempatan, melewati kekalahan, kritik, hingga nyaris menyerah. Namun, ia memilih bertahan. Ketika kesempatan itu akhirnya datang, usianya telah menginjak 40 tahun—usia yang oleh sebagian orang dianggap sebagai senja karier seorang pesepak bola.

Bagi siapa pun yang hari ini merasa gagal, tertinggal, atau menganggap hidup tidak lagi berpihak, kisah Vozinha mengingatkan bahwa waktu tidak pernah terlalu terlambat untuk mewujudkan mimpi. Selama masih ada keyakinan untuk terus melangkah dan keberanian untuk bangkit setiap kali terjatuh, selalu ada peluang untuk menulis bab terbaik dalam hidup.

Sebab, hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Hidup adalah perjalanan tentang siapa yang tidak menyerah ketika jalan terasa panjang.

Dan mungkin, seperti Vozinha, kemenangan terbesar bukanlah mengangkat trofi. Melainkan mampu membuktikan kepada diri sendiri bahwa mimpi yang dijaga dengan kesabaran dan kerja keras, akan menemukan waktunya untuk menjadi kenyataan. (Beju)

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
IKLAN 357 STUDIO 312