kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow
Opini

Kekeliruan Ketika Membandingkan Pembangunan Air Mancur dan Videotron

69
×

Kekeliruan Ketika Membandingkan Pembangunan Air Mancur dan Videotron

Sebarkan artikel ini

Oleh: Fajrin Bilontalo

Kedua foto ini bersumber dari facebook @Uraib Adpenturz dan media berita RELATIF.ID.

GORONTALO (Essai) – Tujuh tahun lalu, kira-kira pada tahun 2019, kawasan Menara Pakaya pernah memiliki ikon yang menjadi magnet bagi masyarakat. Air mancur yang dipadukan dengan lampu warna-warni itu hampir setiap malam dipenuhi pengunjung yang datang.

Pada masanya, air mancur ini menjadi salah satu daya tarik baru di kawasan Menara Pakaya. Banyak warga mengabadikan momen itu bersama keluarga dan kerabat, ada yang sekedar berfoto-foto, dan ada juga yang merekam video lalu membagikannya ke media sosial.

Dinosaur

Kehadiran air mancur ini menghadirkan suasana yang berbeda dan membuat kawasan itu semakin hidup pada malam hari.

Seiring berjalannya waktu, air mancur itu yang tersisa hanyalah dokumentasi yang sesekali muncul di media sosial. Peralatannya mengalami kerusakan dan tidak lagi beroperasi. Sehingga, fasilitas tersebut dibongkar dan ditata ulang menjadi ruang aktivitas baru bagi masyarakat, terutama bagi pelaku UMKM.

Kini, perhatian warga Gorontalo kembali muncul pada kawasan yang sama. Videotron 360 derajat yang mulai beroperasi di sekitar Menara Pakaya menjadi pusat perhatian baru.

Setiap malam, banyak masyarakat yang datang untuk melihatnya secara langsung untuk mengabadikan momen bersama, atau hanya sekadar menikmati suasana yang berbeda dari biasanya.

Bahkan, sesekali saya melihat komentar-komentar di media sosial, ada sebagian masyarakat Gorontalo yang berada ditanah perantauan, ingin pulang kampung.

Namun, di tengah antusiasme itu, tidak sedikit yang kemudian membandingkan videotron ini dengan air mancur yang pernah berdiri sebelumnya.

Bagi saya, sebenarnya tidak ada yang salah dengan perbandingan itu. Namun ada satu hal yang menurut saya kurang tepat ketika perbandingan ini mulai masuk pada aspek pembangunan kedua proyek tersebut.

Menarik Untuk Anda :  Pemilu : Hadirkan Kedamaian Cinta Dalam Sebuah Perbedaan

Padahal, sedikit yang tahu bahwa air mancur dan videotron ini lahir dari dua mekanisme yang berbeda, sehingga tidak dapat dibandingkan secara sederhana.

Karena itu, saya sedikit memberikan penjelasan agar kita tidak terjebak dalam kekeliruhan berfikir. Dalam konteks ini, saya tidak hendak menggurui atau sebagainya, tapi paling tidak: “Mari kita belajar sama-sama.”

Sederhananya begini, air mancur itu, dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Artinya, keberlangsungan fasilitas itu, bergantung pada mekanisme pemerintahan daerah, mulai dari perencanaan anggaran, prioritas pembangunan, pergantian kebijakan, hingga kemampuan pemerintah menyediakan biaya operasional dan pemeliharaan setiap tahunnya.

Sementara videotron 360 derajat, itu merupakan bagian dari revitalisasi kawasan Menara Pakaya yang lahir dari inisiatif pribadi Rachmat Gobel.

Bagi sebagian masyarakat Gorontalo yang belum tahu siapa Rachmat Gobel, terutama generasi seperti saya ini yang dijuluki dengan generasi Z. Mungkin melalui tulisan ini sedikit saya ulas tentang latar belakang beliau.

Jauh sebelum Rachmat Gobel ini terjun ke dunia politik, ia dikenal sebagai pengusaha yang memimpin Grup Gobel, sebuah kelompok usaha yang bergerak di bidang industri dan elektronik serta memiliki kerja sama panjang dengan perusahaan internasional seperti Panasonic.

Selain itu, ia juga merupakan putra asli kelahiran Gorontalo. Rachmat Gobel, lahir pada 3 September 1964. Ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, merupakan pendiri Gobel Group yang juga memiliki akar keluarga dari Gorontalo. Karena itu, meskipun karier bisnisnya banyak berkembang di Jakarta hingga tingkat internasional, Rachmat Gobel sering menegaskan keterikatannya dengan Gorontalo dan menjadikan daerah ini sebagai basis politiknya ketika masuk ke dunia politik. Hingga kemudian ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Gorontalo dan pernah menjabat Wakil Ketua DPR RI. (Buku: Rachmat Gobel: Membangun Kemakmuran).

Menarik Untuk Anda :  Fadel Muhammad Dan Krisis Integritas DPD RI: Mengapa Kami Mendesak Pengunduran Diri

Latar belakang inilah yang kemudian menunjukkan bahwa proyek yang ia dorong, terdapat keterikatan erat hubungan antara penggagas dengan proyek yang dibangunnya. Tidak hanya sumber daya yang dipertaruhkan, tetapi juga nama baik, reputasi, dan komitmen yang melekat pada hasil pembangunan tersebut.

Nah, disinilah letak kekeliruan yang saya maksud, ketika kedua proyek itu dibandingkan dari sisi pembangunannya.

Kita mungkin terlalu sering memperdebatkan sesuatu, hingga lupa melihat sistem yang melatar belakanginya. Padahal umur sebuah proyek tidak hanya ditentukan oleh beton, baja, atau teknologi yang digunakan, melainkan juga tata kelola yang menjaganya agar tetap hidup setelah dioperasikan.

Pandangan ini juga sejalan dengan pemikiran Mardiasmo dalam bukunya yang berjudul: Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Dalam buku itu ia menjelaskan bahwa, pengelolaan pembangunan daerah tidak berhenti pada tahap pengadaan atau pembangunan fisik semata, melainkan juga mencakup pengelolaan, pemanfaatan, dan pemeliharaan aset agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Dengan kata lain, keberhasilan sebuah pembangunan tidak hanya ditentukan saat proyek itu selesai dibangun atau diresmikan, tetapi juga pada kemampuannya untuk terus berfungsi dan memberikan manfaat setelahnya.

Karena itu, pengalaman air mancur ini, sesungguhnya tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa videotron 360 derajat, akan mengalami nasib yang sama. Sebab, keduanya berdiri di atas fondasi pengelolaan yang berbeda. Yang satunya dibangun dengan menggunakan APBD, satunya lagi dibangun atas dasar inisiatif pribadi.

Air mancur memang memberikan pelajaran penting bagi kita bagaimana sebuah fasilitas publik dapat kehilangan fungsinya ketika pemeliharaan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun pelajaran itu, tidak otomatis menjadi ramalan bagi setiap proyek yang lahir setelahnya.

Justru yang lebih menarik untuk kita cermati adalah, apakah model pembangunan berbasis inisiatif mampu menghadirkan keberlanjutan yang berbeda, dibanding dengan proyek yang sepenuhnya bergantung pada siklus anggaran pemerintah.

Menarik Untuk Anda :  RPJMD-nya Haboga: Sebuah Catatan Ringan

Tentu tidak ada jaminan bahwa setiap proyek yang lahir dari inisiatif pribadi, akan bertahan selamanya. Begitu pula dengan tidak semua proyek yang dibangun melalui APBD berakhir dengan kegagalan. Toh juga banyak fasilitas publik yang dibangun pemerintah, mampu bertahan puluhan tahun dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Contohnya, Menara Pakaya atau lebih dikenal dengan Menara Keagungan Limboto dan Pentadio Resort.

Yang jelas, kedua fasilitas publik (air mancur dan videotron 360 derajat) ini, memiliki mekanisme yang berbeda. Karena itu, membandingkan umur keduanya tanpa memahami perbedaan sistem yang melatarbelakanginya, hanya akan menghasilkan kesimpulan yang terburu-buru.

Dan pada akhirnya, waktu akan menjadi hakim yang paling adil. Jika beberapa tahun ke depan videotron 360 derajat itu masih menyala, tetap terawat, dan terus menjadi ruang publik yang dinikmati masyarakat, maka tentu keberhasilannya bukan semata karena bentuk bangunannya, melainkan keberhasilan yang lahir dari adanya komitmen yang terus dijaga sehingga fasilitas tersebut tetap hidup dan berfungsi.

Sebab, umur sebuah pembangunan tidak ditentukan dari kemegahannya, melainkan oleh kemampuan sistem di belakangnya untuk mempertahankan manfaat pembangunan itu sepanjang waktu. (*)

kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
kpr subsidi gorontalo (970 x 250 piksel) (2)
previous arrow
next arrow